Posted in Theatre

Disaat Kau Tak Ada – Narration Version

“DISAAT KAU TAK ADA”

Drama Radio by Varry Styles

For Maverick and The Social Writers

Episode 1

Scene 1

 

SFX/Song: Flume by Bon Iver (Play for 1 minute – ish then fade out sebagai background song narasi serta terdengar suara orang sedang memasak – suara berisik panci, dsbnya))

 

Narrator:

Di sebuah Apartemen di New York, Siang Hari –

Cuaca diluar sangat cerah dan sejuk membuat Dina, seorang seniman Teater yang berusia 25 tahun, dan yang sedang menjalani semester terakhirnya di New York University sedang mendengarkan lagu ‘Flume’. Lagu yang disukai oleh pacarnya yang ganteng yang berada di Jakarta, yang bernama Harry Edward Stephen.

Ia memasang lagu tersebut dari hanphonenya yang tersambung dengan Bluetooth speakernya dengan volume yang kencang. Speakernya tersebut yang berada di dalam ruang tamu apartemen Dina. Ia sedang memasak dan menari – nari senang di dalam dapur kecilnya. Dapurnya terletaknya tidak jauh dari ruang tamu, dimana ia meletakan Bluetooth speakernya di apartemennya yang bergaya sederhana namun tetap modern dan stylish yang ia sewa selama masa studinya di New York.

 

(Jeda)

 

Harry dan Dina sudah menjalankan hubungan selama 12 tahun lamanya. Mereka terus berhubungan walaupun selama 3 tahun terakhir ini, Dina tidak bisa pulang untuk berjumpa dengan Harry yang berada di Jakarta. Namun, Harry dan Dina selalu bertegur sapa melalui telepon dan video call online. Selama 12 tahun lamanya mereka menjalankan hubungan bersama, banyak cerita yang mereka jalin bersama dan mereka selalu jujur akan suatu sama lain.

 

Dina yang manja namun independent, Harry yang mapan, tampan, pacar yang super idaman, dan career minded sangat dipercaya oleh Dina. She trusted him with her everything. Keduanya terlihat sangat mencintai satu sama lain dan Hubungan mereka sepertinya baik – baik saja…..

 

(Jeda)

 

Ketika Dina sedang mencicipi ayam kari bikinannya, Harry pacarnya yang berada di Jakarta menelpon.

 

*Suara telepon Dina à (SFX/Ringtone: Stay With Me – Sam Smith) *

 

Seketika Dina segera mematikan kompornya dan melihat layar teleponnya dengan gembira…..

 

 

 

Dina (D): Hi Sayang!

 

Harry (H): Hi! Lagi ngapain kamu?

 

D: Lagi masak nih, kesukaan kamu loh..

 

H: Hmm… wanginya kecium sampe sini.. hihi

 

D: Ah.. kamu bisa aja… Aku kangen loh.. makanya aku masak ini sambil nari2 lagunya Bon Iver kesukaan kamu.. Kamu kapan kesini?

 

H: Hmmm… Aku jadi tambah kangen sama kamu.. hmm, ga tau nih sayang, kerjaanku di Louis & Co. masih banyak.. mungkin musim semi tahun depan?

 

D: Hahaha.. sayangg.. kan emangnya kamu tahun depan kesini kan? Aku kan wisuda.. inget gak?

 

H: Oh iya yaa… Sori aku lupa sayang, lagi pusing disini.. Disana jam berapa nih?

 

D: Haduhh kamu tuh kalo udah kerjaan numpuk pasti lupa deh.. semoga aja kamu ga lupain aku..

 

H: Yah.. kamu sensi deh… Ga lah, you’re my only one..

 

D: Udah ah.. . gomball.. *laughs* Disini jam 11 siang sayang… kuliahku lagi libur

 

H: Wah pas dong aku nelpon kamu.. aku mkirin kamu terus nih..

 

D: Hihi.. sehati yah.. kamu mikirin apa? Kok berisik banget disana? kamu lagi nyetir yah?

 

H: Ohh ga, aku lagi di kantin kantor aku, lagi break – udah malem disini tapi aku males pulang. Aku lagi mkirin kita.

 

D: Aduh kamu ga kasian mama kamu di rumah nungguin kamu? Kamu mikirinnya dalem banget deh. Emang kita ada apa sayang?

 

H: Ga ada apa2 sih.. tapi udah hampir 3 tahun kamu disana.. aku kangen, trus aku cuman bisa meluk guling selama 3 tahun gantinya kamu..

 

D: Harry sayang, kamu jangan mikir gitu dong.. aku jadi sedih.. Aku juga disini meluk guling kalo kangen sama kamu, kayak hari ini aku masak buat kamu sebenernya, tapi kamu jauhhh… Makanya kamu kesiniii dongg… Yuukkk… nanti aku bilang Pak Louis deh, kan dia juga temennya papaku, jadi yaaa cincaylah yahhh…

 

H: *Laughs* kamu lucu .. ga bisa gitulah sayang…

 

D: Ya trus gimana dong.. aku kangennya udah to the max – ga bisa ditampung lagi nihh

 

H: Bisaa kok.. nih aku kirimin ember buat nampung kangennya kamu..

 

D: Hahaha… Ahh kamu ada2 aja… *pause* Eh sayang, udah dulu yah.. aku laper nih.. kari ayamnya klo dingin kan ga enak.. jadi ga bisa inget kamu pas kamu ajak aku ke restoran india ala ala itu.. Aku masih gak ngerti kenapa tuh resto kamu bilang enak.. padahal biasa aja.. hahahhaa

 

H: Hehe… Biarin.. yang penting kan kamu seneng.. hihi… Din.. aku telpon karena pengin ngomong penting.. boleh?

 

D: Hmm.. kamu kok jadi serius gitu? tapi aku beneran laper nih.. besok aja yah?

 

H: Haha ya uda deh gpp.. Love you.

 

D: Love you too.

 

Narrator:

 

(Background SFX Instrumental: ‘Ana and Christian by Danny Elfman from 50 Shades of Grey)

Dengan cepat dan tanpa berfikir panjang apa yang ingin kekasihnya, Harry ucapkan, Dina segera menutup teleponnya dan segera melahap makanan buatannya.

Sementara Harry yang berada di Jakarta merasa kecewa dengan tidak berhasilnya ia menyatakan, mencurahkan ‘rasa kekosongan’nya secara jujur kepada Dina, karena ia tahu pacarnya yang nun jauh disana sedang dalam mood yang bagus, dan ia tidak ingin membuat Dina sedih dengan pikiran dan rasa gundah gulana yang sedang ia hadapi dalam pekerjaannya dan yang terutama dalam kelanjutan hubungannya dengan Dina.

Meskipun Harry merasa mereka sudah cukup lama berhubungan dan sudah yakin terhadap masa depannya dengan Dina, ntah mengapa rasa kekosongan yang dirasakan Harry saat ini begitu mengena, begitu menggoda, begitu membuat Harry merasakan sesak di dada.

Ntah mengapa dalam tahun – tahun terakhir ini, Harry merasakan seperti ada awan hitam yang berada dalam dunianya dan kali ini ia tidak tahu bagaimana cara mengatasi awan hitam itu tanpa membuat Dina marah atau sedih – karena ia begitu mengerti kekasihnya Dina seperti apa orangnya.

 

(Jeda)

——

Scene 2

INT. Kantor Louis & Co.

 

Narrator:

 

Siang hari, di hari yang sama, di Jakarta….

Di sebuah kantor elite ternama yang bernama Louis and Co, tempat Harry sehari – hari bekerja. Ia adalah seorang pengacara muda, berusia 28 tahun yang sudah menangani banyak kasus-kasus sulit dan selalu berhasil.

 

Merasa hampa di hatinya, dan setelah menelpon Dina, Harry sedang memikirkan cara untuk memberi tahu Dina, ia memutar balik handphonenya di meja kerjanya, seperti sedang memikirkan sesuatu.

 

Tanpa ia sadari, bosnya Louis masuk ke dalam kantornya dan berdiri depan Harry sambil melambaikan tanganya di depan muka Harry.

 

Louis (L): EHEM! Halo? Harry!? Bagaimana report yang saya kasih minggu lalu? Apakah kamu sudah selesai kerjakan?

 

H: Uhhh… Hi pak! Maaf… hmm.. sudah.. bukannya saya sudah taruh di meja bapak yah minggu lalu?

 

L: Oh, kamu sudah taruh? Baik, baik… maaf saya lupa.

 

H: *Harry cuman tersenyum, laughs* hehe iya pak..

 

L: Tapi sebenarnya bukan karena hal itu saya kesini… saya ingin bicara sama kamu.

 

Narrator: Seketika posisi duduk Harry berubah menjadi sigap dan ia segera merapihkan bajunya dan duduk dalam posisi tegak.

 

H: Oh iya pak, ada apa ya pak?

 

L: Tidak apa, bagaimana kalau kamu datang besok ke ruangan kantor saya? Saya akan diskusikan lebih detail lagi dengan kamu besok?

 

H: Oh iya pak. Siap.

 

Narrator:

Setelah Louis meninggalkan ruangannya Harry, Ia kembali kedalam pemikirannya yang kosong, ia kembali memikirkan soal Dina.

 

Bagaimana bisa ia menceritakan perasannya yang kosong terhadap Dina. Jangan salah, ia tetap mencintai Dina, menyayanginya, tapi apakah mungkin karena mereka sudah jarang bertemu hatinya menjadi hampa? Disatu sisi, Harry sangat ingin bertemu dan meneruskan hubungannya dengan Dina ke tahap yang lain, disisi lain, ia sedang berfikir bagaimana kalau Ia pindah ke New York untuk bersama dengan Dina. Tapi bagaimana dengan pekerjaannya… ?

 

Seketika ia berfikir kembali terhadap apa yang bosnya Louis katakan tadi…..

 

Harry (lost in his thoughts): ‘Bos gue tumben datang ke ruangan gue, apa rumor tentang gue di alokasiin ke kantor pusat di New York bener yah? apa gimana sih.. duhh semoga bener.. gue udah kangen banget sama Dina.. That would solved kegalauan gue soal kerjaan… tapii.. kokk.. perasaan gue ga enak…? gue juga denger dari Kevin, temen kantor gue, katanya ada hubungannya sama Diana, klo emang bener gue dipindahin ke New York… aduhh, I don’t really like her and her attitude… secara fisik sih oke cantik… hahahha.. mungkin Diana jawaban kekosongan gue?! WHAT?! ERR..No! gw udah fix sama Dina.. gila apa2an gue mikir putusin Dina, after all this time, nope! tapi…. hmmm… hhhh…. *menghela nafas panjang*

 

Songs:

 

Alicia Keys – Empire State of Mind, Pt.2 (Broken Down)

The Chainsmoker – New York City

 

 

Scene 3 – New York Tempat Kuliah Dina

Narrator:

Seminggu sesudah kegalauan Harry yang dimana Dina belum mengetahui apa yang ada dipikiran Harry saat ini, Dina sedang menjalankan perkuliahannya di New York University. Ia sedang belajar mengenai sejarah teater dalam jaman Shakespeare. Waktu menunjukan sore hari dimana Dina sedang diajarkan oleh dosennya yang bernama Ms.Melanie Renshaw – yang berasal dari Amerika dan Australia. Menurut Dina, dosennya yang juga pembimbing thesis akhirnya ini adalah seorang dosen yang killer for some reasons. Namun sebenarnya dosennya ini juga baik dan pengertian.

 

Di sebuah ruangan kelas yang bernuansa kayu dan modern, Dina sedang memperhatikan Ms.Renshaw berbicara, namun isi otaknya sedang membayangkan pacarnya yang nun jauh di Jakarta. Ia membayangkan masa-masa waktu pertama kali ia datang ke New York diantar oleh Harry dan orang tuanya Dina. Teringat masa-masa ketika dulu ia sering bolos sekolah dan masa-masa dimana waktu papanya jatuh sakit dan Harry selalu ada bersamanya…

 

Seketika, pemikiran itu hilang ketika Dina mendengar suara Ms.Renshaw yang menggelegar….

 

Lecturer 1:

Okay guys, next week we will be talking about the birth and importance of Shakespeare in Theatre History. And there’s a quiz! You don’t want to miss it!

The quiz has 50% weight on your final mark, so study hard yeah!

 

SFX: *Class bell ringing*

 

All right, class is dismissed!

 

Narration:

Seketika kelas yang hening menjadi riuh, semua murid bertebaran, meja – meja dan kursi-kursi bergeser, dan terdengar suara bising obrolan mahasiswa. Dina yang masih merapihkan alat tulisnya mendengar suara hak sepatu mendekati dirinya. Ia tidak bisa mengelak dan menelan ludahnya. Ms.Renshaw pembimbing skripsi akhirnya menghampiri. Ia seperti tahu, draft skripsi yang ia ajukan minggu lalu sepertinya bermasalah ….

 

 

 

 

 

Lecturer 1:

Dina, I would like to see you now.

 

Dina:

*menelan ludah* Yes mam. Is there anything wrong?

 

Lecturer 1:

I’ve noticed that your last essay draft wasn’t good enough. Is it possible if you could re-do it?

 

Dina:

Hmm okay, is there anything particular that I need to fix in that essay?

 

Lecturer 1:

Pay attention to your grammar, and you need to do more research on how the Romeo and Juliet story affects you personally as an artist. Remember, this is your last thesis before you graduate, so you better do it really well. You are lucky, I’m not that killer lecture. *Laughs evilly*

 

Dina:

*gugup namun menyanggupi* Oh okay mam. That’s okay. I can fix it. When do you need it by?

 

Lecturer 1:

If you can, maybe tomorrow?

 

 

Dina:

*menelan ludah* Oh okay, is it possible if I submit it next week? Because it’s 15,000 words of essay Mam… I need time to do more proper research so I can do it well this time?

 

Lecturer 1:

Hmm…. How about I give you time for two days to finish it? So submit it to me by Thursday? Next week, I won’t be here until after the final exam, which could delay your graduation. You don’t want that don’t you?

 

Dina:

Oh okay. *nelen ludah* I’ll try my best and submit it to you by Thursday. Thank you mam.

 

Narrator:

Ms.Renshaw meninggalkan Dina yang berdiri tertegun dengan tugas akhir skripsi yang ia harus selesaikan dalam waktu 2 hari saja. Ia kembali duduk di meja kelasnya, tidak jadi pergi meranjak ke kelas selanjutnya dan hilang dalam pikirannya…

 

Dina Self Talk (DST):

*nelen ludah* Gila nih dosen, baik sih baik.. tapi ga gini juga…. udah disuruh belajarin Shakespeare buat quiz besok, trus besok juga gue harus beresin tuh skripsi sialan. Kelar hidup guee…. HHHH… Cowo gue gimana ya kabarnya? Gue kangen.. kemarin dia mau bilang apa sih, kok misterius gitu yah.. ?

 

Narrator:

Sementara Dina sedang hilang dalam pikirannya, teleponya dengan nada dering yang khas menandakan siapa yang telepon tersebut, berbunyi..

 

*SFX: –> Ringtone: Stay with Me*

 

DST: *semangat* Eh cowo gw! Pas banget gue lagi butuh curhat!

 

Dina: Hi sayanggggggg! Pas banget kamu telepon! Aku lagi pusing nih.. masa guru sejarah teater gue yang notabene guru pembimbing gue juga, nyuruh gw benerin skripsi akhir aku selama dua hari trus abis itu di submit?! Katanya kalo gak aku gak bisa lulusntar… (dengan suara sedih dan mau nangis) truss.. aku juga kangennn banget sama kamuu….(suara manja)

 

NARATOR:

Harry yang sedang berada di dalam mobil, ia sedang menyetir sembari menelpon pacarnya Dina. Ia sangat ingin mengungkapkan kekosongan yang ada dalam hatinya dan mengabarkan progress pekerjaannya kepada Dina, ada sesuatu hal penting yang mungkin menjadi jawaban atas kekosongan hatinya. Namun, di dalam mobil ini, ia sedang tidak sendiri….

 

(SFX: Background telepon Harry berisik seperti di dalam mobil yang sedang jalan / nyetir – ia sedang bersama teman kantornya Diana)

 

Harry: *hesitant* oh iya iya.. gitu yah.. kerjain aja sayang.

 

Dina: Kok kamu aneh sih? Biasanya kamu gak gini deh.. ada apa ? Tumben kamu telepon jam segini?

 

Narrator:

Terdengar background suara Diana tertawa lagi di telpon dengan temannya

 

Diana:

“Eh iya, gue lagi sama si Harry ganteng nih.. dia ngajakin gue dinner date. Gokil kan yah?”

 

Dina: (bingung) Sa..Sayang, itu siapa?

 

Harry: Ohh.. bukan siapa2 kok. Itu temen kantor aku, namanya Diana. Dia emang gitu orangnya, suka berhayal yang aneh2.

 

Diana: Oh, hellooo Dinaa!! You’re on the speaker phone!

 

Dina: *semakin bingung* *sedikit marah* Harold! Maksud kamu nelpon aku apa?! Jadi maksudnya kamu mau pamer ‘pacar’ baru kamu sama aku gitu?

 

Sound: Terdengar Harry agak risih dengan Diana dan mencoba untuk menenangkan Diana, ‘Ssshhhh.. din.. udahhh…

 

Harry: Bukan sayang.. aku lagi nyetir, jadi pake loudspeaker, sori Diana emang gitu, kita lagi mau ke tempatnya client Pak Louis, di Ciputra Mall – kamu tenang aja yah.. ga ada apa2 kok.

 

Diana: (Nimbrung) Haha tenang aja Ms.New York! Dia aman kok sama gue. Gue janji ga nakal. hihihii

 

Harry: Risih dengan Diana. ‘Din, udah dong.. kasian Dina..’

 

Dina: Ohhh okay! Jadi kamu nelpon aku siang bolong gini maksudnya kamu kemarin itu mau putus sama aku gitu? Great! Pas banget dengan aku harus beresin skripsi aku by tomorrow. Jadi maksudnya kamu nelpon aku itu mau ngasih tau klo kamu udah cape sama kangen2nya kamu trus kamu punya hak buat pamer cewe gila ini sebagai cewe baru kamu gituuu ?!!!!

 

Harry: Dina, I can explain. It’s not like that baby..

 

Dina: DO NOT BABY -ING ME. Aku tuh stress disini, kangen kamu, kangen rumah, kangen semuanya, tapi aku harus beresin kuliah aku disini demi papa. Kamu tau sendiri, waktu sebelum papa meninggal, dia pakaidia bilang aku harus cepet2 lulus, ga boleh bolos kuliah lagi dan aku udah janji sama dia. Seharusnya kamu tau. *mulai nangis*

 

Harry: (bingung mau ngomong apa)

Harry: Ssshh… sayang… aku ga selingkuh kok.. Diana itu emang orangnya gitu, dan ini kita lagi ada urusan kerjaan. Kamu jangan asumsi gitu dong.. ssshh…

 

Dina: *masih nangis*

 

Harry: Sayangg.. aku sayang kamu. Aku disini kemarin disuruh sama Pak Louis boss aku buat ngurusin kasus artis dangdut yang lagi mau cerai sama suaminya. Kebetulan artis itu clientnya Diana. Aku disini sebagai representasi dari lembaganya Pak Louis. Dia percaya sama aku buat ngehandle kasus ini sebagai orang kepercayaannya dia. Truss.. aku kemarin nelpon kamu itu sebenernya mau bilang.

.

Dina: *interrupt* *masih nangis, marah2* BILANG APA? MAU PUTUS SAMA AKU GITU? ! KAN KAMU SELALU BILANG GITU!!! *NANGISNYA JADI SESEGUKAN*

Harry: Ssshh.. sayangg.. udah dong… bukan gitu… Aku mau bilang, kata Pak Louis klo kasus ini oke dan masalahnya beres, aku mau di tempatin di kantor pusatnya Louis and Co Law Firm di New York selama setahun buat aku belajar jadi CFO untuk lembaga ini . Jadi aku bisa ketemu kamu deh!

 

Dina: (tiba-tiba hening)

 

Harry: Sayang..? kamu gpp?

 

Dina: *masih berusaha menyudahi nangisnya yg sesegukan* Ka..kamu serius…?!

 

Harry: Iya. Aku serius. Makanya kamu jangan jelesan gitu dong.. Aku sama Diana ga ada apa2nya kok. Dia pure temen kerja aku.

 

Diana (nimbrung): temen kerja, apa ‘temen’ kerja?? *evil laugh*

 

*Harry tambah risih dengan Diana.*

 

Harry: Diana! Udah dong, jangan giniin gue, kasian cewe gue disana. Ssshh. Stop please.*

 

Diana: Okay okay!! (teriak ke telponnya Harry) Sorry Dinss! Gue cuman becanda kok! *evil laugh* hahahahaha !

 

Harry: Sayang? kamu masih disitu? Jadi gimana kamu seneng kan..?

 

Dina: …… iiyaa.. aku seneng… tapi kenapa aku ada perasaan aneh sama Diana yah..

 

Harry: Udah, kamu gak usah mikirin itu.. coba tarik nafas.. buang… trus penjamin mata kamu.. dua minggu lagi aku kesitu. Oke? Love youu..

 

Dina: Dua minggu?! *Langsung seneng* Whaa okay sayang! Beneran? *kaya mimpi*

 

Harry: Iya sayang, dua minggu. Oke? Sekarang kamu kerjain aja skripsi kamu biar beres yah? Jadi pas aku dateng kita bisa jalan2 oke? Love you.

 

Dina: Ok. Love you too.

 

Harry: Dahhh.

 

Narrator:

Harry buru-buru menutup telponnya, karena ia risih dengan Diana yang tidak berhentinya menatap wajahnya dan dengan pelannya Diana meraih wajah Harry untuk menciumnya. Suara ciuman pipi yang berkali kali tersebut terdengar hingga ke speakerphonenya yang masih tersambung dengan Dina, membuat Harry terpaksa menutup teleponnya dengan cepat, agar ia bisa segera memberhentikan Diana yang menurut Harry, Diana mulai beraksi aneh.

 

Balik di New York, Dina pun terheran – heran mengapa ada suara seperti orang ciuman di speakerphonenya. Dan dia merasakan ada sesuatu yang sedikit aneh dengan Harry saat menelpon dirinya. Ia curiga, apakah Harry, pacarnya yang nan jauh disana baik2 saja? Siapa Diana? Suara apa itu? …

 

Sesudah Harry menutup telponnya buru2, Dina ingin mengucapkan kata ‘Harry! Maafin aku yah…’ tapi semuanya sudah terlambat.

 

Dina: Haarry ! Ohh.. o.k..k

 

 

Dina Self Talk (DST):

 

“Kok, perasaan gue ga enak yah? Ahh… tapi gw seneng banget akhirnya dia bisa dateng tinggal disini selama setahun, trus dua minggu lagi ! Whoa.. gw harus siap2 belanja ayam yang banyak nih buat masakin dia Butter Chicken favouritenya !

 

Hmm… okay…

 

Tapi gue bingung, kok tadi ada suara orang ciuman yah ?

Ahh.. mungkin itu cuman perasaan gue aja. Lagi sensi gara2 si dosen yang ngakunya gak killer tapi sebenernya dia berbakat buat jadi (SFX: Fadeout…) dosen killer – killer tapi pura2 baik. Hahaha..

 

Narasi:

Dina pun semakin hilang dalam pikirannya. Sibuk merencanakan kedatangan pacarnya Harry. Namun hati kecilnya tetap mengatakan ada sesuatu yang aneh dengan Harry, walau sebenarnya perasaan aneh itu sangat kuat, tapi Dina berusaha untuk tidak mengindahkannya……

 

Song:

Lady Gaga – Million Reason

 

– End of Episode 1

 

EPISODE 2

Scene 4 – Jakarta

INT. Mobil — Harry dan Diana scene

 

NARRATOR:

  1. 2 à CONT.

Di hari yang sama, di dalam Mobil, setelah menelpon pacarnya Dina, Harry yang sedang menyetir dan menyudahi teleponnya dengan pacarnya Dina secara terburu-buru, segera mengelak tangannya Diana yang sedang meraih wajahnya Harry untuk dicium, namun tangan Diana begitu kuat sehingga akhirnya Diana pun berhasil mencium pipinya Harry. Walau sebenarnya Diana ingin mencium bibirnya Harry, namun Harry mengelak.

 

SFX: *Diana mencium pipi Harry dan tertawa puas*

 

Narrator:

Terlihat Diana begitu nafsunya tanpa sebab yang jelas untuk mendekatkan mulutnya ke bibirnya Harry, Ia ingin mencium Harry dan berusaha untuk mendapatkan Harry.

 

Harry: Diana! Gila lo! Maksudnya apaan sih?

 

Narrator:

Diana adalah seorang ‘assisten’ bos besarnya Harry, ia juga seorang pengacara berbakat yang selalu dipercaya oleh Bos Louis terhadap kasus-kasus besar, seorang wanita yang berparas cantik layaknya Miss Indonesia, berdada besar, berpakaian seksi layaknya pramusaji di restaurant Hooters dan selalu mempertunjukan bagian-bagian dada dan pinggangnya yang berbentuk ideal seperti gitar akustik yang melambai. Cara bicaranya pun begitu sensual dan selalu membuat para lelaki luluh lantah terhadap cara bicaranya. Seperti mereka sedang berada dalam ‘magic spell’nya Diana, seperti terhipnosis oleh kebutuhan mereka akan Diana.

 

Diana: *evil laugh* *suara diana itu kayak cewe2 manja ga jelas gitu* Harry sayangg… ga usah pura2 deh.. kan kamu juga suka sama aku… buktinya kemarin kamu curhat panjang lebar tentang Dina.. udahlah.. ngapain.. dia lagi di New York. Katanya kamu kemarin haus kasih sayang, sini.. sama aku aja. Aku rela kok..

 

Narrator:

Diana sedang berada di dalam mobil bersama Harry – mereka sedang menuju tempat klientnya Diana untuk membahas kasus besar yang sedang Diana tangani.

 

SFX: *Harry rem mendadak* Cciiittttt*

 

Harry pun kaget dengan pernyataannya Diana, ia segera memberhentikan mobilnya. Membuat kepala Diana terbentur mengenai dashboard mobil Range Rovernya Harry.

 

Diana: Aduh!

 

 

Harry: Denger ya, kita disini cuman rekan kerja. Gw bantuin lo beresin ini kasus. Lo bantuin gue ke Pak Louis. Oke?

 

Diana: Yakin, cuman gitu aja? Gue bisa aja loh report ke Pak Louis klo lo malah memperkeruh suasana perceraian client gue? Mau kayak gitu?

 

Harry: Diana, please. Kasus ini penting buat gue. Gue mau ke New York, gw mau ngelamar Dina. Walau gue curhat panjang lebar soal Dina kemarin2 sama lu dan Kevin, bukan berarti lu bisa jadi milik gue okay? Gue tau kok lu suka sama gue udah lama, tapi work is work. Okay?

 

Diana: *Evilly Hesitant* Hmm. Ok.

 

Narrator:

Walau Diana mengiyakan pernyataan Harry namun tanpa sepengetahuan Harry, sebenarnya Diana sedang merencanakan sesuatu dalam benaknya…

 

Song:

No Control – by One Direction

One Direction – StockholmSyndrome

 

*Fade out*

 

—-

 

 

Scene 5

INT. Dina’s Apartment New York

 

Narrator:

Hampir dua minggu kemudian, di apartmentnya Dina di New York. Dina kembali memasak makanan kesukaannya Harry, Kari Ayam India. Ia sedang sibuk memotong bumbu-bumbu dan sayuran untuk di masak di atas wajan yang sudah ia panaskan sebelumnya dengan minyak kelapa. Moodnya sangat ceria karena dua hari lagi ia akan bertemu dengan pacarnya Harry, setelah tiga tahun lamanya ia tak bertemu.

 

Harry pacarnya yang nun jauh disana, dua minggu yang lalu telah menyatakan bahwa ia akan dipindah tugaskan ke New York. Walau selama dua minggu itu pun, Harry sama sekali tidak menelpon dirinya atau berkomunikasi dengan dirinya. Disisi lain, ia juga sedang sibuk membereskan skripsnya yang di demand oleh bu dosen killernya itu.

 

Perasaan bercampur aduk dalam hati Dina, seperti senang namun bercampur dengan kecurigaan yang terjadi dalam pembicaraan mereka dua minggu lalu di telpon, ketika teman kerjanya Harry yang bernama Diana itu ikutan nimbrung dengan pembicaraan mereka di teleponnya Harry yang di set secara speakerphone.

 

Namun Dina tidak mengindahkan perasaan tidak enaknya itu, di dalam pikirannya ia berusaha untuk tetap optimis terhadap kedatangan pacarnya Harry yang dimana Harry akan tinggal di New York berdekatan dengannya.

 

(Jeda)

 

Dina yang sedang memotong sayurannya tidak memperhatikan kemana arah pisaunya pergi karena ia sedang hilang dalam pikirannya, dan tanpa sengaja ia terkena iris pisaunya yang tajam tersebut.

 

Dina: Ouch! Duh.. hhhh.. ada ajaa…

 

Narrator:

Dina segera bergegas mengambil kotak P3Knya yang terletak tidak jauh dari dapur kecilnya, ia membuka hansaplast dan memberi betadine di atas luka irisnya.

 

Sambil menunggu betadine itu kering sebelum kembali melanjutkan aktifitas memasaknya, ia duduk di atas lantai sambil membayangkan dan kembali hilang dalam pikirannya….

 

DINA SELF TALK:

*Sedang mengatur rencananya utk kedatangan Harry. Dan lost in her thoughts* Ok, ayam udah siap di kulkas, semua bumbu2 lagi aku potongin. Ga sabar buat dia dateng! hihi! aku udah beli lilin, bunga, syal warna kesukaannya dia, pasti ntar dia seneng. Tapi kok aneh yah, belom ada email, atau sms dari dia – atau telepon. Padahal dua hari lagi dia katanya mau kesini kan. Hhhh…. kok perasaan gw ga enak yah.. haduhh moga2 gpp dhe…

 

Dari kemarin gw sibuk beresin skripsi sama dosen killer itu – aduhhh pusing pala gue jadi ga sempet telpon Harry deh. Tapi untung udah beres. Tinggal nunggu kabar dari si dosen sedeng itu. Haha. Harry lagi ngapain yah? Ahh aku udah ga sabar dia kesini. Hihi. Telpon ah… “

 

Scene 6 – THE BIG PHONE CALL

 

Director’s Note:

This scene is back and forth between Harry in Jakarta and Dina in New York – bisa dibantu dengan Narator dan SFX.

 

Narrator:

Di New York, siang hari, di hari yang sama, Dina akhirnya memutuskan untuk menelpon pacarnya Harry yang berada di Jakarta…

 

DINA @NY:

 

SFX/ SOUND: Harry – JKT – Ringtone: “Ed Sheeran – Give Me Love” + vibrate diatas meja + suara dering telpon ga diangkat ‘tut tut tut’

 

Dina: Kok tumben lama yah diangkatnya.. kenapa yah? Ah aku tutup dulu trus coba telpon lagi deh….

 

SFX/ SOUND: Harry – JKT – Ringtone: “Ed Sheeran – Give Me Love” + vibrate diatas meja + suara dering telpon ga diangkat ‘tut tut tut’

 

Dina: *Mulai resah* Ckck… Kok gini .. biasanya dia langsung angkat. *Trying to be positive* apa dia udah di pesawat yah? tapi klo dipesawat ko dia ga matiin hapenya? HHHH…. lagi sibuk kali yah? Yuda deh ntar aku telpon lagi.

 

SFX: tut tut tut – telpon. Suara orang menutup telpon: *Ditutup lagi*

 

INT. Kantor Harry – Night.

Harry @ JKT –

Narrator SFX: pelan2 mencekam

 

Narrator:

Di hari yang sama di Jakarta, dua hari sebelum keberangkatan Harry ke New York, satu hari sebelum Harry menghadapi sidang terbesarnya. Perbedaan waktu di Jakarta dan New York sangat jauh, walau di New York sedang menunjukan waktu siang, namun di Jakarta sudah menunjukan pukul 9 malam. Dimana kantor2 sudah tutup dan semua karyawan sudah pulang namun tidak dengan Harry.

 

Ia sedang menyiapkan semua dokumen kebutuhan sidang besarnya besok, ketika Diana tiba-tiba masuk keruangan kantornya dan mengunci pintu ruangan kantornya.

 

Harry yang sedang sibuk dengan berkas berkas sidangnya tidak sadar bahwa Diana telah masuk ke dalam ruangan kantornya. Siang hari sebelum Diana masuk ke dalam kantornya Harry, ia telah berhasil memasukan sebuah pill ke dalam air minumnya Harry yang tanpa sengaja telah Harry minum pada waktu makan siangnya bersama Diana. Itulah yang menyebabkan Harry seperti hyper dan sangat fokus terhadap apa yang ia perlukan besok dan tidak menyadari bahwa Diana sudah berada di dalam ruangan kerjanya Harry dan siap menjalankan apa yang sudah ia rencanakan sebelumnya.

 

Dengan santainya, Diana mendekati Harry yang masih begitu hyper dan fokus terhadap berkas-berkasnya yang ada di depannya… Dan dengan suara yang hampir mirip dengan Dina, Diana membisikan sesuatu di telinga Harry..

 

Diana: ‘ I Love You. Hmmmpftt…’

 

Narrator:

Dengan pelan Diana menaruh dirinya diatas pangkuan Harry yang sedang duduk di atas kursi swivelnya. Bisikan itu membuat Harry seakan-akan terhipnosis, merasakan sensualitas yang ia pernah rasakan dengan Dina – pacarnya, dan membuatnya melihat Diana bagaikan Dina dan mulai mencium bibir sensualnya Diana, ia mencium bibirnya Diana berkali – kali dengan begitu nafsunya, seakan – akan perasaan kangennya terhadap sentuhan Dina meluap – luap pada saat itu juga, pill yang tanpa sengaja di minum Harry pada waktu siang hari, membuatnya berhalusinasi dan mempunyai perasaan campur aduk, terhadap Dina.

 

Matanya tidak bisa melihat jelas kecuali berkas-berkas tersebut, alam bawah sadarnya seakan-akan mengetahui bahwa ia mencium Diana namun ia seakan-akan tidak peduli dan menyerah terhadap perasaan kekosongannya itu. Obat tersebut telah membuatnya kehilangan kontrol dan kehilangan jati dirinya sendiri. Ia merasakan pusing tapi pada saat yang bersamaan ia juga terangsang akan sentuhan sentuhan Diana yang membuatnya lemas dan tak kuat lagi melawan apa yang menurutnya salah, ia berserah terhadap awan hitam itu, ia berserah dan menyerahkan dirinya terhadap sentuhan-sentuhan Diana yang begitu membakar bagian kepriaannya – dan ia seperti tidak tahan lagi untuk memikirkan mana yang benar dan mana yang salah – ia hanya lemas dan berserah pada apa yang sedang terjadi dengan dirinya sekarang – walau ia sama sekali tidak menikmati rasa sensual yang ia rasakan sekarang, ia tidak bisa mengelak lagi dan memutuskan untuk menyerah.

 

Begitu dashyat Diana mencium bibirnya Harry dan bermain dengan lidahnya –

Tanganya Diana pun mulai pelan –pelan membuka resleting celananya Harry, dan dengan cepat ia segera melakukan hand job – yang membuat Harry semakin mendesah dan terangsang –

 

Harry pun mulai bergerak pelan namun pasti menuju dadanya Diana – dan Harry pun mulai menikmati permainan hand jobnya Diana, membuat Diana semakin terangsang dengan suara desahannya, sentuhan tangannya dan ciuman Harry yang semakin liar dan tidak terkontrol lagi –

 

Diana perlahan – lahan membuka atasan bajunya yang seksi dan membuat Harry mengulut dadanya yang besar dan bagian kepriaannya semakin berdiri tegang.

 

Diana sangat menikmati rencana jahatnya ini yang dimana ia dan Harry semakin hilang dalam kenikmatan duniawi – Desahan mereka pun semakin kencang, badan mereka pun mulai berkeringat basah dan intense, mereka semakin dekat, berpelukan erat, dan sesudah melakukan hand job terhadap Harry dan telah membuat Harry mengulut bagian dadanya yang besar itu, Harry semakin liar dengan ciumannya di bagian dadanya Diana sambil tanganya yang besar itu meraih dan memijat secara sensual bagian dadanya Diana …..

 

Baju dan celananya Harry yang sudah dibuka lebar dari kancingnya oleh Diana, dengan perlahan mulai memasukan bagian prianya Harry yang sudah tegap itu ke dalam bagian kewanitaanya Diana –

 

—-

Diana: (mendesah) hhh… Harry.. *mencium Harry, namun terdengar sebenarnya Harry terdengar terpaksa dan sedang di goda oleh Diana.*

 

Narrator:

Namun sebelum Diana berhasil membuat mereka bersatu selamanya melalui intercourse yang Diana sudah rencakanakan, efek obat Harry sudah habis membuat dia tiba2 Harry tersadarkan, kaget, berdiri, merapikan baju dan celananya dan dengan sigap melempar Diana ke atas lantai sehingga membuat Diana terjatuh…

 

Kepala Harry yang masih pusing mencoba mengingat kejadian sensual yang ia alamin barusan, dan ia pun semakin malu melihat bagian kepriaannya berdiri tegap dan semakin kaget melihat Diana sudah half naked di hadapannya…

 

Harry: *ngos2an* Diana! Stop! Loe apa2an sih ini. *trying to catch his breath*

 

Narrator:

Diana tersenyum jahat segera merapikan kemejanya dan rambutnya yang berantakan…

 

Diana: Halah… udah ga usah muna deh lu.. lu suka kan gue gituin? Buktinya tadi lu nikmatin. *evil laugh*

 

Harry: Ngg…. ya ga gitu juga! Kita kan tadi disini mau bicarain soal sidang besok, kok tiba2 lo jadi wild gini sih? Gokil lo ya!! PARAH !

 

Diana: *evil laugh* Harry harry harry… Harold Edward Stephen. You are handsome, but naive. Emangnya loe pikir loe bisa dapet kasus besar client gue dari si Louis itu karena hasil kerja keras loe? *evil laugh* Hahahaha.. NOPE! Asal loe tau aja, gue udah suka sama loe dari dulu banget sampe gue desperate gimana caranya dapetin lo, karena lo selalu ignore gue. Dan ketika sebulan yang lalu setelah lu di assigned kasus ini bareng gue, loe sempet cerita ttg pacar lo Dina yang manja itu ke Kevin – temen loe – yg notabene mejanya sebelah gue – ya gw denger lah – how desperate you are – how empty you are. Ringtone lo sama Dina aja ‘Give me Love nananana I’m desperate’ *mocking Ringtonenya Harry* Trus gw minta ke si Louis supaya lu juga di assigned buat bantuin kasusnya client gue. // Hahahaha.. Sebenernya sih gue bisa aja ngerjain ini semua sendiri.

Tapi pas loe bilang iya menyangguppi ‘semuanya ini’ sama bos Louis – si bos bilang ke gue ‘He’s all yours.’

Lol, asal lo tau aja, si bos sama gue udah ga bisa terpisahkan deh. Walau dia punya istri di rumah, tapi buat dia, gue bisa isi kekosongan hatinya. Tapi gue bosen, sebenernya gue udah pengen making out sama lu dari dulu, gue pengen isi kekosongan hati lu – dan I’m an expert for that! Ha!

 

Jadi lo ga usah kaget2 ga jelas gini deh.

 

You’re all MINE now.

 

Narrator:

Harry terperanjat dan kaget. Ia segera menuju pintu ruangan kerjanya – namun ia tidak bisa keluar karena pintu tersebut sudah di kunci oleh Diana. Seketka ia merasa seperti di penjara, ia merasa seperti di trick, ia merasa seperti di jebak oleh Diana – hanya untuk mendapatkan dirinya –

 

Harry: Whatt..?! apa?! Lo gila! Gila! Bitch! Bos Louis sama loe? Trus maksudnya loe isi kekosongan gue apa? Gw baik2 aja sama Dina! Jangan ngerusakin hubungan gue sama Dina! Lo ga tau gue sama Dina gimana, jadi jangan sok tau !!

 

-Jeda –  

 

Buka gak! Buka ni pintu!!!! Atau gw panggil polisi!

 

Diana: Hahahaha. Silahkan. Oh, btw, Hape lo dari tadi sudah tersambung dengan Ms. New York tersayang…

 

 

Narrator:

Tanpa Harry sadari, semua aksi yang ia dan Diana lakukan, dari mendesah, sampai suara hand job yang di buat Diana sudah tersambungkan ke Dina – inilah rencana jahat Diana – yaitu menghancurkan hubungan Harry dengan pacaranya Dina dan memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan Harry.

 

Diana telah memegang telponnya Harry yang sudah dari tadi tersambungkan dengan Dina yang berada di New York – dengan jahatnya dibawah pengaruh drugs tersebut menit sebelum Harry tersadarkan – Diana membuat voice changer yang menirukan suaranya dengan Harry…

 

Diana/Harry: Halo, Dina sayang? Sori yah, aku ga jadi ke New York soalnya aku lagi having fun nih sama Diana. Hahaha. Udah yah… Dahhh. *menutup teleponnya*

 

Narrator:

Dengan panik, Harry mencoba merebut handphonenya dari Diana …

 

Harry: Halo! Halo! Sayang?

 

SFX: *tut tut tut*

Narrator:

Harry semakin panik karena tidak ada respon dari Diana, ia menyadari bahwa ia telah di jebak oleh Diana untuk mendapatkan dirinya, mencoba untuk membuka paksa pintu yang sudah dikunci untuk segera melarikan diri dan melaporkan kejadian ini semua ke polisi…

 

(Jeda – SFX: Membuka paksa pintu)

 

Dengan lemas dan masih merasakan pusing yang tak terkira, Harry pun berteriak2 meminta tolong namun semuanya sudah terlambat – waktu sudah menunjukan pukul 12 malam dan semua orang di kantor termasuk satpam sudah tidak ada lagi –

 

Telepon yang terhubungan dengan Dina, pacarnya yang nan jauh disana sudah terputus, dan hubungannya dengan Dina seperti sudah tidak ada harapan lagi…

 

Diana: Silahkan. Percuma. Lu mau minta tolong sama siapa juga percuma. Semuanya sudah pulang.

 

Harry: Bitch! Mau lo apa sih? Gila ! Let me out! *panik*

 

Narrator:

Harry pun semakin panik – kemejanya yang tadi terbuka dengan paksa ia rapikan satu – satu, Diana pun semakin merasakan bahwa ia semakin berkuasa atas Harry – dengan pakaiannya yang seksi yang tadinya terbuka sekarang ia hanya merapikannya seadanya – membuat pengaruh obatnya Harry agak sedikit bereaksi lagi ketika melihat belahan dadanya Diana yang besar – ia pun kembali melawan perasaan aneh tersebut walau kepalanya semakin pusing dengan ia perlawannya. Semakin ia melawan perasaan aneh itu, semakin pusing kepalanya seperti mau mati –

Diana pun tau efek obat itu akan membuat Harry tak berdaya – Mukanya Harry sudah mulai pucat dan Diana yang merasakan bahwa ia berkuasa atas Harry mulai menjelaskan….

 

Harry mencoba mendengarkan dengan tidak berdaya…

 

Diana: Harold Edward Stephen. Lo tau apa kepanjangan dari Louis and Co? dan siapa Co itu? *evil laugh*

 

Co itu adalah GUE.

 

I owned this company. I can do everything that I want.

 

Co means collaboration between Me and Louis. So that means you are mine and kalo lo mau tetep kerja disini dan tetep punya sertifikat pengacara lo you have to do exactly as what I say.

 

Lo mau lapor polisi? Haha! Silahkan! Gw jamin ga bakal ada yang percaya sama lo.

 

Semua kemungkinan bukti dan kejadian disini sudah gue apus.

 

Jadi pilihan lo, antara lo keluar dari sini, nama lo diapus, lo dianggap mati atau lo stay here, do as I say dan besok kita akan menang sidang, karena gw tau lo adalah seorang pengacara yang berbakat.

 

Bagaimana tawaran gue? *evil laugh*

 

Narrator:

Harry hanya bisa menelan ludah, ia sama sekali tidak bisa bergerak – hidupnya, karirnya, hubungan perfectnya dengan Dina seperti hancur berkeping – keping di depan matanya.

 

Ia tidak mempunyai pilihan lain lagi kecuali tunduk terhadap apa yang Diana mau….

 

Harry:

 

FINE.

 

What DO YOU want?

 

Narrator:

Dengan senyum evilnya, Diana dengan bergairah menjawab Harry…

 

Diana:

Make love to me.

 

Songs:

I Put A Spell on You by Annie Lennox

Pillowtalk by ZAYN

—-

Dina POV @ NY

INT. Apartemen Dina

 

Narrator:

Di waktu yang sama ketika Harry di jebak oleh Diana, melihat dari sudut pandang Dina…

 

Telepon Dina berbunyi…

 

*Telpon Dina bunyi: Ringtone: Stay With Me by Sam Smith*

 

Dina:

Ahh..! Akhirnya dia nelpon ! Asyikk… pacarku jadi ke New York nih!

 

Narrator: Dengan cepat, Dina mengangkat telponnya

 

Dina: Halo, sayang? …

 

Narrator:

Seketika Dina terdiam…

 

(Jeda)

 

Di dalam telpon — terdengar suara desahan, teriakan mendesahnya Diana, suara ciuman, kertas dan barang berjatuhan. Terdengar suara Diana mendesah tajam, meneriakan nama: ‘Harrrrryyy….’

 

Dina yang shock, jatuh terduduk di lantainya, dia ga percaya apa yang terjadi dengan Harry di dalam teleponnya. Ketakutan yang selama ini dia rasakan, terjadi di telinganya – walau hanya di dalam telpon – tapi buat dia semuanya hancur – plan dan masa lalu dan masa depanya bersama Harry hancur berantakan berkeping –keping – walau hati kecilnya merasa ini semua adalah mimpi … namun ia tidak bisa berkata – kata lagi

 

Dina: Ha..llo.. sayangg… haa..loo.. kamu .. kamu… *mulai menangis*

 

Diana/Harry: *Mimik suaranya Harry* Halo Dina sayang? Sori yah, aku ga jadi ke New York soalnya aku lagi having fun nih sama Diana. Hahaha. Udah yah.. Dahhh.

*Menutup teleponnya*

 

Dina: *Suara telpon tertutup: Tut tut tut* *masih ga percaya* Halo? Halo? Harry?!

 

Start Song – Background SFX: Skyscrapper – Demi Lovato

 

Dina Self Talk:

 

H…arry… ?

 

*menangis tersedu2, lemes*

 

Ga kusangka… selama ini kamu.. *tambah lagi nangisnya*

 

Tapi aku sudah siapin makanan kesukaan kamu,..

 

Ha…rry…. *Sesegukan*

Songs:

Skyscrapper – Demi Lovato

 

SFX Background: Skyscrapper – Demi Lovato. Play selama 1 minute then masuk ke introludenya Heaven Knows by Hillsong United sebagai background soundnya Narrator.

 

Narrator:

Background Song / SFX: Heaven Knows by Hillsong United

 

Demikianlah kisah Dina dan Harry dalam ‘Disaat Kau Tak Ada’ yang ditulis oleh

@Vania Christy R, bekerja sama dengan The Social Writers.

 

Hikmat indah yang bisa kita ambil adalah seberapa lamanya hubunganmu tidak menjamin bahwa hubunganmu perfect, pasti ada saja bumpy road ahead yang membuatmu melakukan detour dan melihat kembali apakah hubungan tersebut worth it.

Harry bisa saja mengunjungi Dina di New York kapanpun ia mau, ia adalah seorang yang mapan, namun obsesinya terhadap karir dan pekerjaannya yang telah membuat ia terjebak ke dalam politik kantor tempat ia bekerja – terjebak oleh Diana.

 

Diana yang awalnya bersikap baik – baik dengan Harry tapi dibelakang kebaikannya tersebut, ia seornag yang fake, toxic, dan mempunyai rencana jahat untuk merebut Harry dari long – term girlfriendnya. Diana adalah sosok yang sempurna menggambarkan seorang yang menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan dimana ia berada.

 

Diana dan Harry mempunyai satu kesamaan yaitu mereka berdua terobsesi dengan obsesinya masing – masing sehingga mereka melupakan esensi penting dalam menjalankan kehidupan ini.

Dina dan Harry tidaklah sempurna, mereka hanya dua sejoli yang mencoba menjalankan hubungan long distance mereka, dimana tali pernikahan sudah di depan mata – namun Diana merusaknya – tapi jikalau Diana tidak merusaknya, apakah Dina dan Harry akan tetap bahagia dengan kekosongan yang di rasakan Harry?

 

Tidak ada yang sempurna dalam hidup ini, khususnya dalam menjalin hubungan. Semuanya terjadi karena suatu alas an – yang kadang kita sebagai manusia pun tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi dengan kita. Tapi ambilah hal itu sebagai sebuah pelajaran hidup yang bisa kita petik untuk pembelajaran chapter hidup kita berikutnya.

 

‘Never stop learning and listening, because this is our journey in life.’

 

Terimakasih telah mendengarkan cerita ini dan semoga bisa mendapatkan hikmah dari cerita Indah ini…

 

Song: HEAVEN KNOWS _ FADE OUT _

 

— END —

Author:

Jesus. #TreatPeopleWithKindness Head of Hospitality @FullColorParty Loves to Write I love concerts, and everything about music Loves to assist and help others I am always prepared for everything Loves to travel but I can't travel light - I've tried tho! :D Feel Free to chat me about things! I'm struggling with anxiety / dark thoughts / brain noise (as Chris Evans might said it :P) - sometimes :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s