Posted in Theatre

Sejarah Teater Mono by Vania Christy R

Teater Mono GKI

“To God Be the Glory!”

 

About Us/Sejarah Berdirinya Teater Mono GKI.

FOREWORD.

Banyak cerita mengenai bagaimana Teater Mono GKI berdiri dan memulai perjalanannya selama 8 tahun dalam melayani Tuhan melalui teater / drama ministry. Mungkin sebagian orang yang mengenal Teater Mono lebih awal mempunyai cerita lain tentang bagaimana tim drama dari GKI Pengadilan Bogor ini berdiri. Namun dari sedemikian cerita dan latar belakang yang ada, mari kita selaraskan dengan satu cerita yang sudah diterbitkan secara publik melalui website resmi kami: http://teatermono.tumblr.com; Tulisan mengenai latar belakang Teater Mono di website resmi kami dibuat oleh Vania C Raharja, artistik direktur kami yang sudah bergabung di Teater Mono dari awal-awal tim drama GKI Pengadilan diluncurkan.

Khusus untuk artikel GODS, Vania selaku penulis artikel ini dan Artistik Director Teater Mono yang sekarang, telah melakukan beberapa interview dengan para Sesepuh (para tetua Teater Mono yang dulu anggota aktif dan ikut mendirikan Teater Mono) untuk melengkapi bagaimana sejarah Teater Mono berdiri.

 

 

 

THIS IS OUR STORY / THE BEGINNING OF US.

<Desember 2004> Teater Mono GKI dimulai pada Desember 2004. Pada tahun yang sama, pergerakan teater dalam GKI Pengadilan dimulai dengan persiapan perayaan malam Natal di GKI Pengadilan, dimana para pemuda dan pemudi serta remaja berkumpul untuk berpatisipasi dalam pertunjukan Malam Natal 2004. Kami mulai berlatih diminggu kedua bulan November dibawah arahan Kak Charlie. Dimana ketua Komisi Kesenian juga hadir untuk tes suara / audisi peran. Saat itu, GKI Pengadilan belum mempunyai group teater / drama secara resmi dalam badan Komisi Kesenian. Seringkali jemaat yang aktif di gereja kami dalam hal group Teater/Drama hanya berkumpul untuk event- event tertentu saja, seperti Natal, Paskah atau event besar GKI Pengadilan Bogor.

Setelah melakukan seleksi peran dan pengumuman terkumpulah para pemuda dan remaja yang sudah lulus tes suara dan pembagian peran. Naskah Malam Natal 2004 ditulis oleh Kak Diah Pratiwi – anggota jemaat GKI Pengadilan yang sering diminta menulis naskah di gereja kami untuk perayaan Natal maupun Paskah. Proyek malam natal ini disutradarai oleh Kak Charlie dan Kak Diah sebagai Pimpinan Projeknya atau setara Produser dan penulis naskah. Jumlah pemuda yang terkumpul cukup banyak, kurang lebih 20 orang. Kami berlatih secara intensif mengejar tayang untuk perayaan malam Natal. Para pemuda dan remaja yang terlibat dalam proyek ini adalah Ronald Musalim, Vania Raharja, Dedy Saefudin, Kak Charlie, Artista, Erick Kurniawan, Kak Arie, Kak Selvy, Adrie, Olive, Mikhal, Anne, Abraham Pane, Catur Wahyu, Kak Linggar, Kak Diah, dsb.

Seringnya kami berlatih bersama dalam persiapan Natal, membuat kami merasa seperti keluarga dan dari rasa kedekatan / terikatan inilah muncul gagasan/ide untuk membuat tim drama GKI Pengadilan secara resmi, bukan sekadar berkumpul hanya untuk event – event tertentu saja. Ceritanya, di suatu Minggu pagi setelah kebaktian selesai (kalau tidak salah setelah/masih dalam masa latihan malam Natal/masih fresh dan hangat pergerakan ini berjalan), Vania berdiskusi dengan Ronald Musalim, salah satu pemain yang dituakan, memberikan gagasan, “Opa, kayaknya keren deh kalau GKI Pengadilan punya tim teater / tim drama? Tapi siapa yang bisa jadi pelatih kita? Tau gak?” Ronald: “Kak Diah punya saudara yang mengenal Teater dengan baik, namanya Kak Retno dan Kak Sari Bono.” Vania: “Oh iya, boleh tuh… Kak Retno kan yang dulu tampil jadi nenek tua, monolog, trus diliput di koran Kompas kan? Boleh banget… Sip dehh…” Ronald: “Oke deh Van, nanti gue bahas dengan Kak Diah yah…” Vania: “Sipp deh.. Asikk…”

<Januari 2005> Kemudian, munculah “TM” di Januari tahun 2005 yang beranggotakan dari sisa pemain pentas Malam Natal 2004 yang rindu melayani Tuhan melalui Teater dan sangat passionate mengenai pelayanan ini. Awal mula anggota kami adalah Ronald Musalim, Retno Astuti (Pelatih), Kak Sari Bono (Pelatih), Kak Diah (jarang latihan bersama kami, tapi She’s the boss. Yang kasih kita job2/ proyek2 baru di dalam gereja maupun diluar gereja, kalau dalam struktur TM yang sekarang, she’s the Artistik Director), Vania C Raharja, Dedy Saefudin/DDonk, Artista, Martinah, Martini, Kak Selvy, Ari, Erick Kurniawan, Kak Linggar – kalau ada yang terlupakan maaf yah.

Saat itu kami belum mempunyai nama resmi seperti sekarang. Nama/Julukan “TM” sendiri muncul dari guyonan dalam salah satu latihan kami dan dari situ kami membawa group teater GKI Pengadilan dengan sebutan TM/ Teater tengah Malam. Ceritanya begini, saat Vania bertanya di salah satu latihan di ruang kebaktian GKI Pengadilan Bogor,” Kak, kita kan udah jadi grup Teaternya GKI nih.. namanya apa dong?” Kak Retno: “Hehe.. apa yah? *sambil liat jam, jam 12 malam dan kita masih di gereja* TM aja deh…” Kita semua senang dengan nama/singkatan tersebut karena memang benar, Teater tengah Malam. Mengapa seperti itu? Karena kebanyakan dari kami khususnya Ronald, bekerja di Jakarta dan baru pulang pukul 21.00, sehingga kami pun berlatih mulai dari pukul 19.00 kemudian latihan baru benar-benar serius/mulai pada pukul 21.00 dan selesai pada pukul 1.00 dini hari.

Walau selalu selesai pada dini hari, kami tidak merasakan beban berat atau terbebani oleh pelayanan ini. Justru kami merasakan rasa kekeluargaan yang erat dan sebagai tempat melepas penat dari stressnya pekerjaan di kantor atau sekolah/kuliah. Kami tidak sadar waktu – bahkan rela mau latihan sampai jam 3 atau 5 pagi pun, karena kami benar-benar merasakan indahnya pelayanan melalui Teater dan berlatih dengan berbagai games-games/exercise / warm upnya Teater, dari latihan vokal, latihan gerak, sampai latihan ekspresi.

Dengan nama kami yang baru terbentuk sebagai “TM” atau panjangnya Teater tengah Malam – banyak julukan – julukan TM yang mulai bermunculan karena seringnya kami menggunakan nama “TM” dari ide awal Kak Retno dengan Teater tengah Malam-nya. Alhasil, berbagai singkatan dari “TM” pun keluar, seperti “Tukang Makan” “Tuhan Memberkati” “Tukang Maret – (alias ngaret atau jam karet :D, kita janji kumpul pukul 19.00 namun baru memulai latian pada pukul 21.00 :P) dan berbagai singkatan “TM” lainnya, you name it. Kadang saking kreatifnya kita bisa mengartikan “TM” dari arti yang sangat alkitabiah/bermakna sampai arti yang sama sekali tidak bermakna. Semua julukan ini sangatlah erat dengan perilaku kami sehari-hari dalam berlatih sebagai grup teater GKI Pengadilan Bogor yang baru.

Kami pun mulai bergerak maju dengan kecepatan penuh dengan berbagai macam proyek baik di dalam gereja maupun di luar gereja. Fragment pertama kami, pertama kalinya gereja GKI Pengadilan mempunyai ilustrasi drama sebagai pembuka kotbah diluar konteks Natal atau Paskah. Rasanya masih sangat segar di ingatan kami, pertunjukan Malam Natal 2004 yang berjalan dengan sukses. Naskah fragment pertama kami disutradarai serta di tulis oleh Kak Retno. Seingat saya, nama TM pun muncul pada saat kami belatih untuk fragment pertama kami. Fragment yang mengambil tema kekeluargaan dan rukun tetangga, dimulai dengan adegan mengulek gado-gado di depan jemaat dan sedikit komedi dari karakternya Kak Retno. Cerita fragment drama yang simple, padat, lucu, dan bermakna. Cocok sebagai pembuka kotbah.

<Paskah 2005> Kami pun terus berkarya dan dipercaya untuk kemudian mengisi acara paskah tahun 2005 dengan peran yang sama dan Kak Diah membawa pendatang baru Catur Wahyu sebagai peran orang tua dan Sang Waktu. Paskah kita membutuhkan banyak orang. Disitulah beberapa teman/anggota terbaru kami muncul, seperti Catur Wahyu, Bang Jeffry, dan Kak Septi – beberapa nama dari anggota ini sangat menginfluensi Teater Mono dalam pergerakannya. Seiring dengan bertambahnya pemeran, Kak Selvy yang tadinya bergabung bersama kami harus pindah ke luar kota karena masa kuliahnya dia di Bogor sudahs selesai. Namun anggota lain masih tetap setia dengan format Natal 2004 di Paskah 2005 ini.

Cerita Paskah 2005 ini dibagi dalam dua bagian. Dimana bagian pertama menceritakan tentang Sang Waktu, Sang Bumi, dan Sang Lingkungan. Sangat abstrak. Kemudian babak kedua dilanjut dengan cerita dari seorang gadis belia bernama Dora yang terkena kanker otak yang akhirnya meninggal dunia dan memberikan sumsum tulang dan matanya kepada sahabatnya (Kak Ari sebagai sahabat, Vania sebagai pemeran utama Dora) untuk menyelamatkan nyawa sahabatnya. Berperan sebagai orang tua Dora adalah Kak Mindo dan Bang Jeffry. Pada waktu itu peran sebagai Dora merupakan tantangan sendiri bagi saya, karena harus berakting dengan kursi roda dan suara harus lembut seperti lemah / orang sakit. Pada tahun 2005 ini kami masih menggunakan teknologi Dubbing dimana suara kami direkam sebelumnya dan performance tidak live.

<2005-2006> TM pun tidak terasa sudah berjalan selama 1 tahun berkarya melayani Tuhan melalui drama ministry. Kami pun masih memegang nama “TM”. Dalam rangka 1 tahun kami berkarya, kami diundang untuk mengisi di GPIB Jakarta dan juga perayaan natal di IPB pada tahun 2005, dengan judul “Aku dan Bayanganku” dengan Ronald Mursalim sebagai Pimpinan Project dan Catur Wahyu sebagai sutradaranya. Dalam rangka waktu ini juga, Kak Sari dan Kak Retno sebagai pelatih asal muasal TM ini mulai bergantikan dengan Catur Wahyu sebagai pemimpin dan pelatih kami, dimana peran Kak Diah sebagai Artisitik Director digantikan oleh Ronald Mursalim dan dari sini lah Teater Mono benar2 berdiri sendiri diluar pengaruh dari Kak Diah – senior di gereja kami yang sering membuat drama dan naskah gereja. Kami masih sering berkomunikasi dengan beliau untuk proyek-proyek/job2 permintaan untuk melayani di dalam maupun di luar gereja. Kak Retno pindah ke Jakarta dan Kak Sari harus berhenti melatih kami karena penyakit yang di deritanya.

Jadilah tahun 2006, TM dinaungi oleh Catur Wahyu sebagai pelatih dan Ronald sebagai pimpinan proyek/Artistik Director. Pada waktu itu, saya salah satu anggota termuda di Teater Mono dibandingkan dengan anggota lainnya yang sudah berkerja maupun kuliah. Masa remaja saya, saya lewatkan dengan Komisi Pemuda dibandingkan dengan Komisi Remaja Awal mula nya saya bertanggung jawab untuk urusan makeup yang dijuluki sebagai “Tukang Makeup dan Kostum” bersama dengan Tinah, Tini, dan Ci Glo. Karena banyaknya pemuda yang tergabung dalam grup kami, kami pun secara tidak langsung resmi terdaftar dibawah naungan Komisi Pemuda. Terinspirasi dari proyek Lenong pertama kami pada bulan Keluarga 2005, dimana kami diminta untuk menampilkan sebuah Lenong, kami pun menggunakan julukan Tukang ala Betawi sebagai alternatif dari Sutradara atau peran2 lainnya dalam grup organisasi Teater.

Pada tahun ini juga Teater Mono resmi terdaftar dibawah Komisi Kesenian bukan lagi dalam Komisi Pemuda, karena kami ingin lebih luas lingkupnya dimana SEMUA anggota GKI Pengadilan baik simpatisan maupun nenek kakek yang semangat untuk melayani Tuhan melalui Teater, kami menyambutnya dengan tangan terbuka.

Dalam rangka 1 tahun kami berkarya, melalang buana melayani Tuhan melalui teater / drama ministry, banyak dari kalangan publik mulai mempertanyakan apa arti kata dari “TM” atau kepanjangan dari “TM”. 1 tahun berkarya kami masih menggunakan nama “TM” / dan berbagai julukan dari kata TM sebagai nama resmi kami. Akhirnya kami pun berkumpul dalam salah satu latihan rutin kami yang diadakan setiap hari Minggu jam 12 siang. Dalam akhir latihan tersebut, rapat kecil kami, kami membahas apa arti kata dari “TM”? untuk kepanjanganya? Dengan syarat kami tidak boleh menemukan nama baru selain dari akronim “TM” – jadilah hal tersebut PR buat latihan minggu depan. Masih teringat jelas dalam ingatan saya, pada waktu itu saya memberikan beberapa ide nama kepada Ronald dan ia pun membalasnya dengan,”Hehe van.. udah nemu kok.. tunggu aja di latihan yah!”

Saat latihan pun tiba, kami membahas topik hangat kami yaitu arti kepanjangan dari “TM” – kami rasa sudah saatnya kami benar2 mempunyai nama kalau memang kami serius dalam Teater Gereja ini. Setelah diskusi panjang, Ronald pun memberikan petuahnya,”Guys, gimana kalau arti TM itu sebagai Teater Mono? dengan filosofi, kita semua bersatu melayani Tuhan dengan satu tujuan kan? dengan emblem kita, To God Be the Glory! – Gimana?” Kami semua mulai berfikir dan secara cepat menyetujui saran dari Ronald yang sebenarnya sudah ia share duluan dengan Catur sebelum latihan / rapat dimulai. Tepat pada Minggu, 15 Januari 2006, nama “TM” resmi menjadi “Teater Mono” dengan kata penyemangat “To God be the Glory!” atau TGBTG! (coba nyebut ini deh, pasti susah at first, haha) – Dan pada tanggal itu juga ditetapkan sebagai HUT-nya Teater Mono – saat itu saya bertanya, “Sekarang kita sudah punya nama, trus ulang tahunnya kapan dong?” Semua setuju untuk menepatkan tanggal 15 Januari sebagai hari peringatan Teater Mono resmi didirikan – berdasarkan tanggal dimana “TM” resmi dinamakan/ditemukan menjadi “Teater Mono” – sampai sekarang pun singkatan “TM” atau “te-eM” masih kita pakai.

<2006-2007> Setelah kami resmi diberi nama Teater Mono kami pun semakin bersemangat latihan dan projek pun mulai berdatangan dengan suburnya. Dari frekuensi fragment yang meningkat yang diadakan dalam gereja sampai permintaan untuk merayakan natal di Mall BTM dan Mall Bellanova. Dalam tahun2 ini kami sempat diminta sebagai guest star / pemeran utama / acara puncak dalam acara paskah / Natal IPB dengan karya KOBAR yang ditulis oleh Catur Wahyu dan disutradarai oleh Catur sendiri. Bang Jeffry sebagai KOBAR dan waktu itu saya dan Benoni (anggota Teater Pagar GPIB Zebaoth) bermain sebagai Bayangan.

Genre yang kami tampilkan pada tahun 2005-2007 sangat melekat dalam teknik Teater Indonesia dimana banyak makna dan simbolisasi dibalik arti naskah maupun staging yang digunakan. Kami juga memerankan live Lenong dalam persekutuan dan selepas dari naungan Kak Diah, kami lebih menggunakan teknik vokal kami secara live dibandingkan dengan dubbing yang sebelumnya kami jalani pada awal – awal kami berkarya. Tahun 2006-2007 di dominasi dengan Catur Wahyu sebagai pioneernya Teater Mono dengan Ronald dan Bang Jeffry sebagai salah satu anggota yang memimpin kami. Sangat lekat dalam memori kami semua dalam melatih, Catur-lah pelatih terbaik yang kami punya selama ini karena kemampuannya membuat Teater itu simple, fun, dan tidak rumit membuat kami mencintai teater lebih jauh lagi.

Highlight dari performance kami dalam rangka tahun 2005-2007 adalah Sinterklas Masuk Kampung yang ditulis oleh Ronald Musalim dan di tampilkan untuk acara natal di Mall BTM dan Bellanova pada Desember tahun 2007, dimana kami juga mengikut sertakan tim VG pemuda dalam pertunjukan / proyek kami, KOBAR yang ditulis oleh Catur Wahyu untuk diperankan dalam acara di IPB, “Aku dan Bayanganku” yang ditulis oleh Catur Wahyu untuk ditampilkan dalam rangka acara di IPB tahun 2005, sebagai road show / proyek di luar gereja TM yang pertama. “Teh Hangat Om Hengky” Workshop mengenai Teater Gereja, mengundang Om Hengky, ada presentasi dari Teater Mono juga pada tahun 2006, workshop besar pertama Teater Mono. Segitu yang saya ingat, mungkin dari sesepuh Teater Mono yang membaca ini ingin menambahkanya lagi?

Banyak moment indah yang kami jalani, dari retreat pemuda sampai sarasehan latihan bareng di Taman Cibodas dengan menikmati rujak spesial buatan Oma (yang sekarang sudah tidak ada), dari latihan yang ngaretnya minta ampun sampai begadang di gereja, nginep di gereja untuk persiapan paskah subuh, sampai banyak kisah cinlok yang terjadi di Teater Mono. Yang masih langgeng sih Vania sama Dedy (ok, off topic) – 😀

Seiring berjalannya waktu, lama kelamaan, peran Catur sebagai pelatih kami digantikan oleh Bang Jeffry. Awal mulanya Bang Jeffry menjadi pelatih kami karena ia dipercaya untuk mengikuti workshop teater gereja di Yogyakarta selama beberapa minggu/bulan penuh dimana selama Bang Jeffry “away” Catur masih memegang peran sebagai pelatih kami. Banyak hal yang terjadi pada tahun 2005-2007, pergerakan penting Teater Mono. Catur mulai mundur dari Teater Mono (lupa kenapa, mungkin karena ia akhirnya menikah dengan Kak Lady dan sibuk mengurus keluarga barunya) dan Bang Jeffry pun melatih Teater Mono – namun Ronald tetap mendukung dan mensupport kami dari belakang.

Khususnya pada tahun 2007, yang saya ingat jelas adalah peran sutradara pertama saya untuk acara Natal Remaja tahun 2007. Saat itu Ronald yang menulis naskah untuk drama remaja, namun karena berhalangan ia tidak bisa membantu lebih banyak, akhirnya saya mengambil bagian sebagai Pimpro / Sutradara untuk “Shining Like A Superstar” sebuah Drama Natal Remaja 2007 dengan menggunakan sound effects.

Saat ini anggota Teater Mono mulai berubah dari para pemuda menjadi remaja, pendatang baru seperti Lingkan, Asa, David, Dewi Sitzah, dan Ronald serta Bang Jeffry menjadi tetua kami. Artista pun mulai tidak kelihatan dan semangat yang selama ini kami bangun bersama mulai terasa pudar karena situasi sudah berubah, namun anggota kami masih menyimpan memori Teater Mono dengan lekat. Pelan2, satu persatu, setelah dibawah naungan sebagai pelatih/koordinator latihan Bang Jeffry, Vania mulai mengambil alih sebagai coachnya Teater Mono / sharing ide-ide tentang games/exercise akting bersama dengan Lingkan. Ronald masih mendukung kami dari belakang namun sudah mulai pelan pelan melepas kami, Bang Jeffry sekarang yang menjadi Ketua di Teater Mono, Ci Glo sebagai bendahara, dan saya sebagai pelatih Teater Mono – namun belum benar2 mempunyai background yang kuat dalam Teater.

Saya masih ingat pada saat itu ada keinginan yang kuat untuk mengambil jurusan Teater di SMA dan memutuskan untuk belajar teater di Singapore dengan pemikiran yang kuat bahwa Teater gereja haruslah professional dan di latih secara professional sehingga jemaat bisa menikmati dan mengerti pesan yang disampaikan, bukan fokus dengan penyampaian / presentasi yang tidak maksimal. Sehingga apa yang saya pelajari di Singapore bisa saya transfer/sharing ke Teater Mono supaya Teater Mono lebih baik lagi.

Tahun 2007 merupakan tahun yang berat untuk Teater Mono, karena anggota kami mulai berkurang, pelan pelan meninggalkan Teater Mono karena sibuk dengan pekerjaan, keluarga baru, kuliah, tesis, merasa sudah tidak ada lagi rasa fun dalam berteater, dan rasa kekeluargaan yang sudah dibentuk pun mulai pelan pelan menghilang. Di bawah pimpinan Bang Jeffry, tidak banyak project yang kami produksi tidak seperti dibawah pimpinan Catur Wahyu dan Kak Diah, dimana intensitas produksi kami tinggi.

THE NEW BEGINNING. THE NEW ERA.

<2007-2008> Bang Jeffry hanya sebentar menjadi pemimpin Teater Mono. Pada tahun 2008, saat Bang Jeffry “mampir” ke Bogor setelah memutuskan untuk pindah ke Medan menghilang begitu saja, p impinan tersebut digantikan ke generasi yang lebih muda. Anggota Teater Mono yang bertahan tinggal Vania, Lingkan, dan Asa. Masa yang sulit namun fun buat saya karena by the grace of God, anggota resmi kami hanya terdiri dari 3 orang, namun kami masih bisa memproduksi banyak karya Teater Mono dengan kapasitas kami sebagai pengurus Teater Mono dan berkolaborasi dengan remaja atau anggota jemaat lain.

Dalam periode transisi ini, Lingkan lah yang berlaku sebagai penulis naskah kami, sementara Asa adalah creative directornya yang dimana ia membuat props, mengatur lampu, bagian teknikal teaternya sementara Vania sebagai Pimpro / sutradara. Seringkali Vania dan Lingkan bergantian untuk mendirect suatu project. Bisa dibilang Vania Lingkan sebagai duet maut layaknya Jokowi – Ahok sekarang 😀 – maksudnya saya disini, saya dan Lingkan cocok dan merupakan partner tim kreatif yang sering berantem namun kami saling melengkapi karya satu sama lain.

Pada bulan Agustus 2008, tibalah saatnya untuk Vania memulai masa kuliahnya di Singapore dan Teater Mono pun dipimpin oleh Lingkan dan Asa. By Grace of God kita kedatangan anggota baru yang sekarang jadi Performance Director kami, Gratia Octaviani / Via, Herlen Herdianasari (angkatan 2006 yang bisa dipanggil kapan aja kita butuh), Winda Lestari dan Samuel Lim. Masa2 Lingkan dan Asa berjaya dalam Teater Mono tidaklah saya ketahui dengan detail, karena kesibukan saya berkuliah di Singapore dan jarak yang memisahkan kita. Walaupun saya jauh, saya tetap memantau pergerakan Teater Mono dari jauh dan tetap berkomunikasi intense dengan Lingkan mengenai ide-ide dan projek2 TM yang selanjutnya. Pada tahun 2008 ini saya berlaku sebagai pelatih/koordinator latihan dari Teater Mono. Dibawah pimpinan Lingkan dan Asa, Teater Mono memang tidak banyak memproduksi karya namun gaung tentang adanya teater gereja mulai dirasakan oleh Komisi Remaja GKI Pengadilan. Genre yang kami gunakan mulai berubah, dari yang tadinya ekstreme pure teater indonesia dengan bahasa yang baku menjadi lebih santai dan lebih mengena untuk kalangan remaja. Tema yang dibahas dalam naskah pun yang tadinya baku dan dewasa menjadi lebih ke persahabatan, pacaran, dan konflik remaja lainnya.

Anggota Teater Mono angkatan 2005-2007 sudah tidak aktif mengikuti latihan reguler kami namun bersedia mendukung dan membantu kami dalam makeup, set atau crew.

Salah satu highlight performance dalam periode “ThreeMuskeeters” (Lingkan, Vania, Asa – saking dekatnya kami bertiga dan bagaimana kami saling melengkapi proses kreatif kami) – adalah “Mencari Cinta” sequel dari drama natal yang bercerita ttg Randy (diperankan oleh Asa) yang dibesarkan dalam keluarga broken home dan menyukai seorang remaja perempuan bernama Winda. Dalam drama ini Ci Glo, Bang Jeffry, Dedy, dan Kak Dewi masih membantu kami dalam mendesain panggung dan lebih ke backstage support sementara saya mulai menyutradarai beberapa proyek TM untuk remaja. “Bioskop” nah project ini nih yang unik, naskah ditulis oleh Catur Wahyu setelah diminta oleh Lingkan untuk menulis /memberikan kontribusi / membantu kami untuk fragment kecil kami dalam persekutuan pemuda, dan Ronald yang memberikan job ini kepada kami, namun Vania yang membantu latihan dan “menyutradarai” serta ikut tampil di dalamnya karena kami kekurangan SDM. Saat itu Asa tidak hadir karena ada halangan / mungkin Asa yang mengambil foto ya? Haha, sudah lupa. “Shining Like A Superstar” sampai sekarang drama Natal remaja ini adalah drama yang lucu dan tidak terlupakan.

<2008-2009> Pada masa2 ini Teater Mono memasuki masa hiatus namun Lingkan, Asa, dan Vania yang ada di Singapore masih berusaha untuk mempertahankan Teater Mono, sesuai pesan yang saya sampaikan sebelum memulai kuliah di Singapore, “Guys, jangan sampai TM itu bubar yah.. Keep it up, semangat, dan tentunya melayani buat Tuhan. TGBTG!” – Saya salut gimana Lingkan dan Asa bisa mempertahankan Teater Mono walau beranggotakan hanya mereka berdua serta pelatih Teater Mono yang baru, Pak Azis Wahyudi. Sebelum saya meninggalkan diri untuk berkuliah di Singapore, tentunya saya ingin TM agar bisa terus berlatih, Pak Azis adalah guru teater dari SMA saya yang pernah menjadi pelatih di PGI walaupun dia beda agama. Untunglah Pak Azis, Asa, dan Lingkan bisa cepat bonding sehingga mereka tetap bisa latihan sambil mencari SDM baru.

<2010> Setahun berlalu, saya memutuskan untuk berhenti kuliah dari Singapore dan mengambil program acting/actor’s program ke Los Angeles. Pada masa ini saya memegang penuh sebagai leader/manager di Teater Mono alongside with Lingkan secara bergantian. Asa masih terlibat, seringkali sebagai aktor dan crew. Salah satu highlight dari periode ini adalah disaat saya dan Asa diminta untuk memerankan suatu ilustrasi mengenai dosa oleh Pdt Ujang Tanusaputra, pendeta di GKI Pengadilan Bogor. Pak UT bilang kalau ia ingin ada ilustrasi sebelum ia memulai kotbahnya. Saat ini lah muncul ide untuk menyatukan naskah KOBAR dengan 7 Deadly Sins theme.

Pada tahun 2010, Teater Mono sudah berdiri sendiri dibawah naungan Vania dan Lingkan. Bang Jeffry sudah di Medan, Catur sudah sibuk dengan keluarga barunya, Ronald sudah mempunyai pasangan (akhirnya!), Artista gak tahu kemana, Tinah dan Tini serta Ci Glo bersedia untuk membantu sebagai tim make up. Dedy sudah tidak mau bergabung lagi serta Erick sudah sibuk dengan Komisi Pemuda.

Untuk supaya LEPAS bisa sukses kami membutuhkan 7 orang untuk memerankan setiap dosa yang ada. Dengan teknik dan background yang saya dapatkan di Singapore, LEPAS adalah project Teater Mono pertama yang menggunakan teknik Breaking The Fourth Wall by Bertolt Brecht – dimana pemain sudah standby duduk bersama dengan jemaat dalam karakternya dan instead of mulai dari belakang panggung, kami sudah standby duluan duduk bersama dengan jemaat dan memulai entrance kami dari situ. It’s a big project and ambitious too, turning the church in Christmas into real chained character.

Semua pemain di borgol dan dirantai (rantainya beneran) merepresent dari masing2 sins dan karakter masing2 dosa. Dalam proses pencarian pemain, kami bertanya pada adiknya Lingkan, Raven untuk bergabung bersama kami. Lingkan mempunyai koneksi untuk para pemain baru/pendatang baru Teater Mono yang nantinya mereka aktif sampe pada tahun 2011 dan sebagian sampai sekarang. Anggota baru tersebut adalah Raven Bimoro, Elvina Raharja (my sister!), Citra Maharani, Edenise Pane, dan Mayestika Dhea Dara (adiknya Asa). Semuanya generasi pra-remaja dan angkatan dari adik2 kami.

Walau susah mencari SDM yang mungkin lebih mengenal Teater, Tuhan tetap memberikan segala cara untuk supaya Teater Mono tetap bertahan. Tentunya dalam masa hiatus TM pada tahun 2009 saya tetap berdoa agar Tuhan tetap memelihara Teater Mono dalam pelayanannya.

Banyak highlight yang membuat Teater Mono lebih dewasa lagi dalam pelayanannya ditahun 2010 – 2011 ini. Emblem kami “To God be the Glory!” tetap dipertahankan dan diperkenalkan kepada anggota terbaru kami. Walau generasi yang sekarang sudah beda jauh dengan bagaimana environment atau semangat yang dikobarkan pada waktu awal mula Teater Mono berdiri dimana kami bisa latihan sampai kapan aja dan semalam apapun tidak ada yang komplain, salah satu challenge pada generasi ini adalah masalah waktu.

Kalau dulu kami bisa ngaret berjam2, sekarang kami dituntut untuk disiplin dan on time serta tidak boleh latihan lebih dari jam 9 malam, karena mereka semua masih remaja dan pra-remaja yang mempunyai jam malam / curvue oleh orang tua masing2. Ijin latihan pun terkadang sulit, sampai sempat ada masanya dimana saya menulis surat resmi sebagai ijin dan newslatter kepada orang tua anggota. Pada masa ini pula latihan masih dipimpin oleh Pak Azis (kami membayar Pak Azis per satu kali kedatangan) dan keseriusan berlatih yang berkurang dari masing2 anggota.

Namun, masih adanya rasa kekeluargaan diantara semua anggota merupakan suatu hal yang istimewa, karena walaupun beda generasi dan beda cara berlatih, kami masih mempunyai satu kesamaan, bahwa di Teater Mono, we are a family. 🙂

Dalam masa2 tahun 2010-2011 dibawah pimpinan Vania Lingkan, kami sempat mengadakan Workshop Movement for Actors bekerja sama dengan Gigi Art of Dance dimana kisah selengkapnya mengenai workshop ini bisa dibuka di http://teatermono.blogspot.com – diweb ini banyak cerita khusus tentang perjalanan TM di tahun 2010 – 2011. Public Speaking Workshop bersama Fanny Rahmasari yang dimana 80 jemaat dari berbagai golongan umur hadir. Serta menampilkan karya 15-30 menit (yang diprotes jemaat karena kelamaan) berjudul “Threathning from the Past” yang ditulis dan disutradarai oleh saya sendiri. Dimana karakter yang diperankan adalah sebagai orang gila. Naskah ini merupakan naskah monolog, namun untuk staging kami mengikuti teknik LEPAS dimana kami sebagai orang gila sudah duduk di tengah2 jemaat dan akting menjadi gila, layaknya gereja itu menjadi RSJ / Asylum dan sama sekali tidak ada line selain beberapa line yang mendukung monolog tersebut.

Sempat ada konflik diantara Vania dan Asa karena perbedaan ide kreatif dan sempat sampai marah2an di depan para member baru TM yang saat itu sudah bertambah, ada Bella Hutabarat (yang sekarang menjadi Managing Director TM) dan Priska Ciptaningsih. Namun akhirnya konflik terselesaikan dibawah advise dari Pak Azis. Pak Azis selalu dipanggil di luar latihan reguler untuk mengawasi latihan kami dan memberikan feedback dramaturg terhadap karya kami.

Highlight lainnya adalah S.h.E.r.A – drama musikal pertama kami yang ditulis oleh Lingkan dan di develop oleh Vania – sempat ada perbedaan ide kreatif how things should turn out it this project namun akhirnya kami berdua setuju pada final draft naskahnya. Yang memerankan Shera adalah Andita Kezia Sirait (yang sekarang menjadi Musical Director TM) – Shera adalah performance besar pertama Dita since dia bergabung dengan TM. She’s really a talented singer. Her voice is a blessing for us because it sounded like Christina Aguilera mix Celine Dion mix Lady Gaga. It’s powerful. You can check out at http://soundcloud.com/kezs

Anyway, Shera was a big hit, projek Shera melibatkan OKASHI – group dancer dari Kracak – kenalan dari Herlen – dan ditampilkan dalam platform se Klasis JakSel dalam acara Festival Seni Klasis – kami hadir sebagai guest star / salah satu pengisi acaranya.

Pada tahun ini pula nama Teater Mono berubah menjadi Teater Mono, Inc. – dengan kepercayaan that we could go beyond the church and become a professional church theatre company. Visi dan misi kita tetap sama yaitu –> Mission: Towards a professional church theatre group, build for everyone so that they get the blessed and love we shared | Vision: To God Be the Glory! | – Namun hanya namanya yang berubah, biar keren dikit kita tambahin jadi , Incoporation.

Untuk lebih lanjut mengenai riwayat Teater Mono pada tahun 2011, silahkan mengunjungi blogspot kami, http://teatermono.blogspot.com

Fast forward ke tahun 2012, Pengurs Teater Mono digantikan oleh Andita Kezia Sirait dan Lingkan sebagai advisornya, serta saya mengawasi dari jauh -karena saya meneruskan kuliah yang tertunda di Australia. Anggota yang aktif masih Raven, Upik, Dhea, Bella, Eden, Herlen, Via, Elvina, Citra, Pak Azis – Lingkan dan Asa sudah sibuk dengan kegiatan perkuliahan masing2 jadi kami hanya berkomunikasi dari jauh.

Generasi ini lah yang sekarang aktif dalam Teater Mono. Serangkum tahun 2011, Raven, Priska, dan Dhea mulai jarang muncul dalam Teater Mono – dan latihan reguler pun mulai berkurang bahkan hampir tidak pernah kalau tidak ada saya – Citra hanya bantu lewat makeup saja namun itu juga sudah mulai jarang karena sibuk dengan kegiatan masing – Raven Priska dan Dhea sangat aktif pada tahun 2010-2011 – Kami sempat membuat suatu short film yang di sutradarai oleh Raven – Anda bisa melihatnya di http://youtube.com/TheGagakProduction – dengan judul Gita Gutawa – Teater Mono

Namun seiring berjalannya waktu, Teater Mono mulai jarang terlihat untuk latihan reguler di hari Minggu karena tidak seperti para sesepuh dulu yang benar2 mempunyai passion dalam melayani Tuhan melalui Teater – buat generasi yang sekarang, mereka lebih pratical – “tidak perlu latihan reguler namun kalau ada project mulai aktif latihan lagi hanya untuk project tersebut – setelah itu masuk ke masa hiatus” – tapi saya salut dengan anggota yang sekarang, mereka masing2 sibuk dengan sekolah, kuliah, dan kegiatan masing2, but they all are creative and very talented actress and singer too.

         Karena itulah diluncurkan continuity based project dari Teater Mono yang diberi nama Teater Mono Singers. TMSingers ini beranggotakan Bella Hutabarat, Andita Kezia Sirait, Edenis Pane, dan (our newest member) Angelita Silaban. Melalui TM Singers, kita punya goal untuk delivered the best worship / different environment/sounds to our congregation. That’s why our songs selection is based on worship songs the latest collection. BUT it’s all about we are trying to make GKI like karismatic church or etc, which is would be a big controversion, we are trying to transfer the karismatic feel from that worship song to be adjusted to our style of congregation – with the powerful tunes and voices from our talented singers. Penyanyi di TMSingers is carefully selected berdasarkan talenta menyanyi yang mereka punya.

<2013> Teater Mono yang sekarang adalah Teater Mono GKI. Teater Mono yang lebih dewasa memfokuskan dirinya untuk lebih melayani Tuhan melalui drama ministry dan TMSingers / Worship Leaders – dan Teater Mono yang lebih terstruktur organisasinya. Pengurus Teater Mono yang sekarang –>

Artistic Director –> Vania C Raharja

Managing Director –> Bella Hutabarat

Performance Director –> Gratia Octaviani

Musical Director –> Andita Kez Sirait

Monoager to TMSingers –> Angelita Silaban

Spokeperson for TMSingers –> Edenise Pane

Karena saya berkuliah di Australia, yang mengurus Teater Mono selama saya berada di Australia adalah Bella dan Via – dengan Via berlaku sebagai sutradara / penulis naskah jika ada project. (Check out “Saved by the Grace of God” drama radio kami di RRI Pro2FM Bogor yang di tulis dan disutradarai oleh Via di http://soundcloud/teater-mono) – Sementara untuk Dita, Eden, dan Angel, mereka mengurus Teater Mono Singers. Sebagai Artistic Director saya bertugas membuat program, memastikan apa program tsb berjalan atau tidak, online markerting untuk Teater Mono, Pimpro untuk Teater Mono Singers dan memberikan advise serta jobs / projek kepada Managing Director yang nantinya dari Managing Director di transfer ke Performance Director. Kami membutuhkan banyak SDM untuk menambah anggota kami dan beregenerasi – untuk sekarang, kami mengurus Teater Moono namun juga menjadi pemainnya.

Salah satu highlight production kami di tahun 2012 adalah “Fix You” – Natal Pemkot Bogor 2012, “Safe (Me)” 16 Des 2012 – Minggu Advent 3 GKI Pengadilan Bogor 2012, Shera part 2 – Malam Natal GKI Pengadilan 2012 (6 tahun kemudian, Teater Mono melayani secara penuh dalam perayaan malam natal, walau beda pemain / bukan anggota aktif Teater Mono namun ini drama musikal yang liriknya kami buat sendiri dengan bantuan dari salah satu aktor kami, Pak Agung dan saya sebagai sutradaranya. Serta our first movement based project and Raven’s last performance 😦 – “Everything” by Lifehouse untuk kebaktian natal. Kami juga kedatangan pemain baru, Frans Gultom – yang sekarang jadian sama Bella 😀 – cinlok dehh. hehe.

Anyway, di TM saya/we selalu percaya bahwa professional teknik dalam berakting sangat dibutuhkan dalam teater gereja sehingga karya yang dihasilkan adalah karya yang berkualitas dan tidak setengah2. Komitmen yang diberikan haruslah 10000% – tidak ada excuse untuk tidak hadir dan merugikan pemain yang lain jika tidak bisa hadir disebabkan oleh macetnya jalan atau alasan2 klasik sebagainya.

Di TM, apa yang saya pelajari di Singapore, di LA, di Australia, saya share dengan teman2 dalam latihan reguler dan dalam penyutradaraan saya. Sehingga kalian / anggota kami bisa mendapatkan knowledge/pelajaran yang saya dapatkan di luar negri secara GRATIS. Teater Mono melatih anda untuk disiplin, berdedikasi, dan berkomitmen tinggi. Professionalism. Walau kita sering miss- time management – tapi kami terus berusaha untuk memperbaikinya dan menjadi lebih baik lagi. Banyak dari anggota kami yang bilang latihan di Teater Mono seru, intense, tapi pengen lagii.. 🙂 Tertarik bergabung dengan kami? Monggo kita welcome kok… 🙂

Kesimpulan:

Walau di gereja masa produkfitas TM meningkat pada saat saya pulang ke Indonesia, bulan2 November – February, namun saya bisa mempercayai anggota yang aktif sekarang untuk mengurus Teater Mono walau saya tidak ada, karena mereka mempunyai passion/mission yang sama yaitu “To God be The Glory”. 🙂 – thanks for reading!

—————————-

For more info about Teater Mono GKI = please check out our website http”://teatermono.tumblr.com

Contact us: teatermono@gmail.com

Twitter: @TeaterMonoGKI | @TMSingers

Facebook : Teater Mono | Teater Mono Singers (page)

Artikel ini ditulis oleh

Vania C Raharja

Artistic Director of Teater Mono

BA Dramatic Arts (candidate) Theatre Practiice

Wesley Institute Sydney.

Aug 11th 2013

—————————————————————

Beberapa qoute dari Sesepuh kami:

 

Ronald:

Retnoi

Artis

Tinah

 

Dari anggota kami yang sekarang:

Eden: “Teater Mono is a like a family.”

 

 

 

 

Author:

Jesus. #TreatPeopleWithKindness Head of Hospitality @FullColorParty Loves to Write I love concerts, and everything about music Loves to assist and help others I am always prepared for everything Loves to travel but I can't travel light - I've tried tho! :D Feel Free to chat me about things! I'm struggling with anxiety / dark thoughts / brain noise (as Chris Evans might said it :P) - sometimes :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s