Posted in Uncategorized

VarRy. : Puzzles of My Life is Answered

Kelas Akting Salihara

image

image

Week 2

Pertemuan ke 4: 17 January 2016

Kalo di post sebelumya gue kebanyakan curhat, post kali ini menjelaskan lebih detailnya kenapa gue curhat beserta solusinya, dikaitkan dengan exercise2 yang gue lakuin di kelas yang memang hari ini adalah praktek.

Sebelum masuk kelas ini, kita semua dikasih PR buat cari satu karakter pilihan kita dan subtextnya. Gue pilih Putri Sulung yang dihalaman 11 setelah beberapa halaman lain gue baca. Gue pilih ini karena subtextnya sangat jelas setelah gue bandingin dengan line yang lain. Di text ini, actor / penonton bisa melihat betapa kejinya Putri Sulung pada ayahnya. It’s a short line tapi subtextnya jelas and I have visions/images for it. Linenya: ‘Jadi kamu kembali? Kalau begitu, aku akan menyiapkan kamar untukmu. Bagaimana kalau kandang kida? Atau kamu memilih penjara?’

Anyway, di kelas kali ini gue juga telat, I feel better than yesterday but gue baru berangkatnya jam 2 siang, biasanya…

View original post 1,958 more words

Posted in Uncategorized

VarRy. : Week 2 (16th Jan 2016)

Kelas Akting Salihara

image

16th Jan 2015

Hari / Pertemuan ke 3 kali ini, mood dan health gue lagi gak maksimal. Bukan maksud untuk bikin excuse atau gimana, tapi sehari sebelum tanggal ini gue ngadain acara syukuran Teater gereja gue yang ke 11 dan disitu semua team members / actors gue berkumpul dan kita bernapak tilas ria mengenang masa-masa dahulu kala ketika kita ada performance, production, hangout, dsb.

Salah satu yang bikin mood / emosi gue agak gak stabil adalah ketika gue penasaran dengan apa yang terjadi waktu dulu sehingga teater gereja gue sempet hiatus 3 tahun dan sempet ada perselisihan besar sama salah satu team member gue. Bagi gue, ini kayak opening up ‘the old wounds’ yang belum sempat terselesaikan dengan baik dan gue penasaran apa yang membuat kita seperti itu. Sehingga gue tanya sama G (kita pake inisal aja ya) ‘Dulu.. kenapa sih kita sempet berantem hebat?’  – Karena ketika gue tanya…

View original post 1,943 more words

Posted in Theatre

My Acting Journey at Kelas Akting Salihara 2016

KELAS AKTING SALIHARA TAHAP 1

DI MATA SEORANG LULUSAN SARJANA TEATER

 

Awalnya semua orang bertanya, kenapa sih gue pengen ikutan kelas ini? Even gue sendiri pun bertanya, ‘Is it worth the money?’ ‘Lo kan udah lulus S1 Teater di luar pula, ngapain lo ikutan ginian?’ Namun setelah gue pikir-pikir lagi, iya, gue perlu ikut kelas ini. Kenapa? Karena walaupun gue sebenernya udah ‘licensed’ untuk ngajar Teater di Salihara tapi ilmu atau culture dan networking Teater Indonesia gue masih kurang. Selama ini gue ngajar Teater di sekolah2 Indo pakai Bahasa Inggris, bukannya sombong apa gimana, tapi memang materi yang gue pelajarin selama di Sydney and Singapore adalah dalam bahasa Inggris. Sehingga output yang gue keluarkan buat ngajar Teater di Indonesia adalah dalam Bahasa Inggris.

Sebenernya gue udah tahu ada kelas akting ini dari tahun 2015. Cuman sayang, waktu itu gue masih di Sydney. Jadi gue bertekad buat, ’Okeh, next year I’m going to join them.’ Dan ketika waktu itu akhirnya menagih tekad gue, sempet gue doubting sama diri sendiri. Sempet juga ada rasa malas untuk mengikuti kelas ini, namun setelah gue pertimbangkan, kalau gue gak ikutan kelas ini, awal tahun 2016 gue akan terbuang sia-sia dan gue akan balik ke nutshell gue yang dimana seharusnya skills yang gue punya disebarluaskan untuk art scenenya Indonesia.

So sebagai pendaftar terakhir, gue ikutan kelas ini. Detik2 menuju kelas ini, gue berfikir pasti ada introduction lebih dahulu dan gue gak mau sombong sama semuanya. First impression gue sering kali bikin orang jadi misleading siapa gue sebenernya. Kalau gak hape gue jatuh, guenya jatuh, gue salah ngomong, atau terkesan kaku / angkuh, mau ngelucu tapi jadinya gak jelas, dsb. Akhirnya gue latihan gimana gue mau ngomong, tapi setelah sampai di kelas, tetep aja kesan pertama gue kayak gitu. Hahaha.

Hari pertama kelas ini, gue observe semua yang ada di kelas. Mostly, semuanya pekerja dan nyebutin apa yang mereka kerjakan. Namun disitu gue ngerasa, bahwa semuanya itu adalah ‘baja besi’ mereka yang mau mereka sharing ke publik. Dengan bangganya mereka menyebutkan pekerjaan mereka dan apa yang mereka lakukan di keseharian dan juga kenapa mereka ikut kelas ini. Lucunya, disaat gue gak mau nyebutin siapa diri gue sebenernya atau pengalaman Teater gue atau gue mau ‘humble’ aja atau bahkan akting ‘sok anak sebelah yang gak tahu apa2’ ternyata yang lainnya mengeluarkan kebanggaan mereka sendiri sebagai shield mereka dan latihan introduction gue pun buyar.

Pas giliran gue, Mas Is, guru akting kita atau istilah Indonesianya, ‘Pengampu’ yang sampai sekarang gue pun gak ngerti kosa kata itu apaan; bertanya, ‘Lo siapa, dan kenapa lo mau ikutan ini?’ Gue rada deg-degan saat itu karena he’s intense! Kalau di Aussie semua orang pada cair dan ramah at first met tapi kali ini gue mau berbasa basi asik, kesannya jadi garing… Anyway, gue jawab, ‘Bahasa Inggris apa Bahasa Indonesia?’ trus Mas Is jawab, terserah. Yauda gue jawab, ‘I’m Vania, asal dari Bogor.’ – kearah Mas Is, tadinya udah mau gitu aja, trus sama gurunya disuruh speak to the rest of the class. Gue repeat, ‘Hi! I’m Vania, Gue asalnya dari Bogor. (Pause)’ Gue bingung mau ngomong apa lagi karena ini gak sesuai dengan latihan gue dirumah! Trus secara impulse gue lanjut,’…Sebenernya gue udah sarjana Teater..’ Trus Mas Is bales, ‘Ngapain lo disini?’ Gue bales ‘hehehe.. mau belajar and re-learn lagi tentang Stanislavski dalam bahasa Indonesia…’ Trus dia tanya, ‘Sarjana Teater dari mana?’ ‘Dari Sydney, di Excelsia College.’ Gue pikir kan udah yaa.. trus Mas Is nanya lagi ‘Siapa program leadernya.. Carmen Tarbadeou bukan?’ ‘Err.. Dr Herman Pretorius dari Afrika Selatan sama Jo Kenny dari Australia. Kalo Carmen Tarbadeou mah orang Amrik kali kang… ‘ Setelah gue pikir2 Carmen Tarbadeou kan sebenernya karakter fiktif di Glee.

Setelah introduction dan first impression gue yang tidak sesuai gue harapkan itu, kelas hari pertama adalah kelas introduksi kita terhadap sistemnya Stanislavksi. Which is very good to start with, jadi semua orang di kelas ngerti. Mas Is sering mengeluarkan pertanyaan2 serius dan aneh bagi orang yang tidak terbiasa dengan gaya mengajar dalam teater. Namun gue udah biasa dan gue putuskan untuk diam dan mengobserve yang lain.

Hari pertama kita di jelaskan tentang ‘To Be atau Menjadi’, ‘Acting itu apa’, ‘Penjelasan Subtext’, dan ‘Apa sih Theatre of the Absurd itu…’ I’m surprised by the amount of breaks that we do yang biasanya kalau di Sydney gak sebanyak itu. Tapi surprisingly it’s needed, karena gak semua yang disitu bisa fokus dengan materi ‘berat’ yang di berikan. Kita juga nonton pertunjukan yang Mas Is sutradrain dan yang pernah menang award sebagai ‘case study’ dan disitu gue bisa lihat jelas karya Mas Is dan teknik Stanislavski yang ia ajarkan kepada aktor2nya. Gue bisa lihat dengan jelas Subtext, Beats, dan Given circumstances dari karakter yang gue lihat di rekaman Teater Satu tersebut.

Selebihnya, gue ketawa2 sendiri karena setuju apa yang Mas Is bilang soal di Indonesia belum ada yang memakai ‘subtext’ atau teknik Stanislavski secara keseluruhan. Sehingga cerita atau karakter yang dihasilkan menjadi biasa dan artificial. Hari pertama dari kelas ini, ‘I left the class feeling happy and inspired because this is where I suppose to be since I arrived back in Indonesia, a year ago.

—————————————————————————————————————-

Hari Kedua di kelas ini, lutut gue bermasalah jointnya jadi gue harus pake knee cap. Gue tahu banget hari kedua pasti bakalan langsung praktek dan makanya gue siapin diri gue sebaik2nya, despite of my injured knee.

Hari Kedua, kita belajar tentang ‘FOKUS’. Ditanyain juga, ‘kenapa harus fokus’, ‘fokus itu apa dalam diri seorang aktor’. Waktu itu gue jawab, “Fokus ya Fokus.” Namun setelah beberapa saat, gue tambahin lagi ‘Fokus itu adalah dimana seorang aktor bisa menjaga kehadirannya diatas panggung detik demi detik.’ “Live in the moment.” Karena apa? Sering kali kita hadir/presence di sebuah ruangan atau tempat tapi pikiran kita kemana2. Sehingga apa yang hadir di saat itu bukanlah kita tapi seperti zombie karena pikiran kita ada di luar ruangan rehearsal.

That reminds me of one acting studio di Amrik ‘The Actors Studio’ dimana mereka menaruh tulisan ‘Leave your Excuses at the door’ di pintu ruang studio mereka. Koneksinya disini adalah memang hal tersebut benar dan diharuskan sebagai seorang aktor yang mau belajar atau bekerja di ruang studio / rehearsal karena anything that happens outside of an actor workspace / rehearsal / character work is irrelevant.

Selanjutnya kita semua beralih ke praktek pertama kita ‘Focus and Impulse Exercise’. Dimana kita diharuskan mencari partner ‘hidup’ kita untuk saling bersinergi satu sama lain dan fokus terhadap satu titik. Pas di demonstrasikan oleh Kak Putri (Studentnya Mas Is dari Kelas Akting Salihara tahap 2) gue langsung ngerti apa yang mereka maksud, karena memang di Teater / Acting exercise, exercise ini sering dipakai untuk melatih fokus seorang aktor sebelum memulai rehearsal. Exercise ini pun beragam variasinya dan mitosnya pun banyak.

Tapi kali ini kita pakai variasi yang Mas Is punya à Variasi pertama: Dimana yang following harus lebih dekat ke arah telapak tangan (fokus point tsb) si yang nge-lead dan ada ritme serta dinamika yang bisa dibuat oleh yang lead. Variasi kedua: tetap sama dengan yang variasi pertama, namun yang kedua ini diikuti dengan impulse dan perasaan dari yang following, tanpa dibuat2 tapi hanya peka dengan impulse yang diberikan oleh otak/perasaan/being kita ketika kita live in the moment atau presence / hadir dalam mengikuti exercise ini. Variasi yang ketiga, all of the above trus ditambah suara seperti humming atau suara2 lirih (begitu Mas Is bilangnya) oleh yang nge-lead. Variasi yang ketiga ini menarik buatku karena ini sesuatu hal yang baru buat aku dan belum pernah aku coba.

Kebetulan aku yang nge lead partner ‘hidup’ aku untuk variasi yang ketiga. I found my self following on my sound impulses instead of knowing the exact words or exact sound, the sound just come up and depending on my partner impulses, the tone and pitch of the sound also adjusted and follows what my partner impulses is. Maksudnya gini, Kalo di variasi pertama kan kita yang nge-lead itu bener2 terserah kita namun ada ritme dan dinamika tertentu, kalau menurut aku, variasi pertama adalah tahap ‘ngerjain’ partner yang follow. Namun variasi kedua, dimana si follower dituntut untuk memberi rasa / emotion terhadap impulse mereka sehingga ada kesan/ permainan status diantara yang ‘lead’ dan yang nge ‘follow’. Nah, di variasi ketiga inilah, si lead tanpa di instruksikan oleh sang guru dan tanpa ia sadari, mengeluarkan suaranya dengan mengikuti impulsenya, dengan subtext/ konteks si yang follow itu merasakan sesuatu dari suara yang dibuat oleh yang lead.

Sangat menarik, karena hanya dari exercise ini saja sudah bisa menjadi sebuah pertunjukan yang menarik untuk di tonton oleh penonton. Hanya tinggal diberi lampu dan special efek khusus jadilah sebuah pertunjukan teater yang bertemakan Fokus and Impulse.

Di Variasi yang ketiga, selain menjadi lead, aku juga sempat menjadi follower. Leadnya aku adalah Mbak Ine Febrianti. Waktu kita mulai, my thoughts goes on, ‘wait, kita udah mulai apa belum sih?’ ‘kok kita duluan yang mulai’ ‘wait, gw belom kasih tau kalau lutut gue sakit’ and so on. Tapi gue decide to live in the moment and focus on what she’s trying to give / lead. And seketika itu juga, all my thoughts / concern/ worry/ dsb hilang dan hanya fokus dengan titik point (telapak tangannya Mbak Ine) dan suara yang dibuat oleh Mbak Ine. Rasanya tuh kayak lo lagi ada di hiruk pikuk sekitar lo dan ketika lo fokus, suddenly lo sendiri yang ada disitu/lingkaran tersebut with your partner.

There are lots of moments dimana gue sebagai follower ngerasain emosi ‘fear’, ‘anger’, ‘sedih yang tertekan’, ‘lost’, ‘ feel I want to scream and cry’, and ‘lemah karena tertindas’ dari berbagai gerakan dan impulse yang keluar dari diri gue ketika Mbak Ine nge-lead gue. Ada juga times where I feel I lost her as my lead karena her movement is too quick for me to follow and maybe she’s also lost her ‘presence’. Uniknya dari exercise ini, kalau salah satu dari partner kita sudah lost their presence atau gak living in the moment atau tiba2 konsennya buyar, dua2nya akan merasakan hal tersebut and we have to start with it again. Gue juga ngerasa gitu, tiba2 suara / pikiran2 gue tentang my knees or my other thoughts muncul lagi ketika Mbak Ine terlalu cepat moving fokus pointnya, kayak koneksi internet yang putus nyambung dsbnya, either gue yang lost living in the momentnya or she lost her living in the moment. But I really had a good time doing this focus and impulse exercise with her, because her dynamics and rhythm was very quick and that makes me as a follower to follow her quickly but also trusting my impulses.

Setelah exercise ini kita disuruh break 10 menit dan setiap satu variasi beres, kita diberikan break 5 menit. Dalam break tersebut gue coba untuk tarik nafas dalam2 dan tidak melepas energi/ sinergi yang gue dapet dari partner gue gitu aja. Karena sering kali, sebagai aktor kita lupa dan langsung let go the moment gitu aja. Gue ngerasa that moment/energi is really big on me sehingga gue harus tarik nafas dan buang nafas berkali2 untuk menetralisir energi dari impulses yang gue bikin tersebut supaya tidak terbawa suasana / mood yang dibuat dari emosi impulsenya gue.

Exercise selanjutnya adalah SUZUKI! Gile akhirnya kesampaian juga gue belajar ini. Tuhan itu baik! J Makasih Mas Is!! Yaa walaupun gak dalem belajarnya tapi setidaknya I got to experience this my self. I know Suzuki, tapi karena gue gak lulus unit Movement 3 waktu gue kuliah, gue gak bisa move on ke unit Movement 4 dimana disitulah Suzuki dipelajarin. Ketika Mas Is introduce Suzuki dengan tema kita ‘Fokus’ hari itu, I couldn’t agree more. Memang on point banget.

Anyway, dalam Suzuki ini, kendalaku adalah knee, backpain and my bruised tulang ekor. Tapi aku coba untuk menghindari concern aku tersebut. Sempet mau opt out pas bagian exercise angkat orang tapi akhirnya aku ikutan juga. ‘Sayang’ kalo gak ikutan. Dibagian exercise angkat orang, Mbak Ine partner aku. Dia coba untuk angkat aku dari ujung ke ujung studio. Pas dia angkat, kayaknya ada posisi yang gak bener sehingga aku ngerasa bagian spine aku agak berat / sakit pinggang tapi disini justru challengenya. Karena bagi yang angkat challengenya adalah berat tubuh kita yang diangkat, tapi bagi yang diangkat challengenya gimana supaya kita let go dan trust partner kita plus fokus terhadap journey yang harus ditempuh oleh partner yang angkat kita daripada fokus dengan pain yang di case ini backpain aku ketika diangkat. I guess challengenya sebagai yang diangkat adalah, gimana kita support dan trust partner kita untuk angkat kita dan support her / him with their focus journey. At the end, we nailed it through the end and accomplished this exercise.

Next exercise kita ngelatih vokal kita. Gue kira udah beres Suzukinya, ga taunya masih ada versi vokalnya. Kita harus bikin suara ‘KHING’ dan ‘QHUING’. Kata Mas Is, exercise ini bagus untuk ngebuka vokal kita supaya resonansinya ada dan lebih dibuka diafragmanya. Yang gue temuin dalam kedua suara ini adalah, kalau yang ‘KHING’ itu lebih keluar arah suaranya (dari dalam / diafragma dihentak keluar) sedangkan kalau yang ‘QHUING’ itu dari luar kedalam. My biggest concern is yang ‘QHUING’ ini, ketika gue lakuin exercise ini gue ngerasa kalau ada bagian yang restricted dan gak open di dalam leher / otot vokal gue. Dan kalau gue hubungin exercise ‘QHUING’ ini ke metode voicenya Kristin Linklater, pasti sama doi di against banget karena gue ngerasa metode QHUING ini memang bagus untuk membuka resonansi di sekitar upper body (neck, shoulder, head) tapi tidak bagus untuk muscle vocal kita jika kita melakukan teknik / metode ini dengan posisi yang salah.

Karena kalau posisinya salah yang ada kita tidak membuka vocal muscle kita, namun jadinya menutup / restricted our voice muscle. Pas Mas Is introduce voice, rasanya aku pengen banget buat share voice technique yang selama ini aku belajar, yaitu TREMORING (kalau gak salah by Catherine Fitzmaurice) sama Freeing the Natural Voice by Kristen Linklater. Karena kedua vokal teknik ini sering aku pake dan has helped me a lot with the voicework, even bisa nyembuhin Sore Throat loh! J

Anyway, setelah dua hari mengikuti kelas akting ini, gue bersyukur bisa ikutan kelas ini, karena selama ini gue belajar akting tapi sering kali chances belajar acting sebagai performer tidak diekspose / explore acting side gue secara 100% karena peran/major gue waktu kuliah dulu dibagi2, sebagai theatre director/ performer atau theatre educator/ theatre practioner. Gue seneng kali ini gue bisa belajar akting sebagai seorang aktor 100% walau gue sebenernya udah pernah belajar hehe. The difference is, waktu dulu gue belajar teater celanga celongo / blank gak ngerti, sekarang gue belajar teater / aktingnya with an understanding and a foundation yang sama Mas Is ditambahin lagi knowledge/vocabularynya. Thanks Mas Is! Looking forward for more.